Dear papa

Dear papa…

Sekarang ini aku sedang menulis di kamar depan sambil memikirkan tentang seorang pria paling sabar yang pernah aku kenal. Seorang pria yang memiliki senyum jenaka dan bersuara merdu. 2 bulan lebih berada di rumah rasanya gak ingin kemana mana. Jujur pa, awal menginjakkan kaki di rumah ini aku sangat ketakutan. Bukan karena aku takut hantu atau apa. Aku hanya takut tak sanggup membendung semua kenangan tentang papa. Bagaimana tidak, semua sudut rumah di rumah ini mengingatkan aku padamu. Dan salah satu hal  yang membuat aku sangat bersedih adalah saat pulang, aku gak menemukan siapa-siapa di rumah. Gak ada papa, mama, caca, kakak, dan adik-adik. Sedih bukan? Saat pulang gak ada satupun orang-orang yang kau sayangi berada di sana untuk menyambutmu.

Pa..

Satu hal yang paling aku rindukan saat pulang adalah sambutan hangat papa. Aku sangat merindukan kecupan sayang di tanganku tiap aku pulang ke rumah. Aku sangat merindukan semua itu pa. Kadang tepat sebelum aku memejamkan mata, aku berpikir dan mengutuk diri sendiri kenapa dulu aku jarang pulang. Kenapa aku begitu tega membiarkan papa dan mama kesepian, menunggu sekian tahun untuk kembali bertemu. Kenapa pada usia 11 tahun aku bersedia tinggal jauh dari rumah. Bukankah lebih baik kita menjalani susah-senangnya hidup bersama-sama?

Papa ku sayang.

Andai papa masih bersama kami, pasti papa juga akan ikut bahagia melihat kehidupan kami semua yang semakin membaik dan gak se susah dahulu. Pasti papa bangga karena kami semua berhasil melewati masa-masa sulit itu. Andai papa ada di sini, kami semua ingin membagi kebahagiaan ini bersama papa. Kami juga sadar bahwa akan selalu ada tantangan ke depannya, tapi kami telah belajar sabar dari seorang guru kehidupan yang sangat menginpirasi dan luar biasa dalam hidup kami, yaitu papa. Papa gak perlu mengkhawatirkan kami.

Istirahat yang tenang di sana ya pa. Selalu doakan kami semua. Semoga Allah selalu menguatkan tangan, kaki, pundak, dan hati kami untuk melewati pahit manisnya hidup ini. Kami juga akan selalu mendoakan papa. :’)

Salam sayang dan rindu

Selalu memiliki dan akan selalu

– your daughter –

BUku

Salah satu kebiasaan saya adalah membeli sebuah/beberapa buku walaupun di rak masih ada yang belum dibaca. Hahaha. Gak tau ya, menyenangkan aja 😀

Saya belum tau untuk tahun-tahun ke depannya gimana, tapi tahun 2013 ini merupakan sejarah dalam hidup saya dimana dalam kurun waktu tiga bulan saya sudah membeli 13 buku dengan budget kurang lebih Rp.365.000, dan 9 diantaranya adalah buku baru (*proud*), dan 9 diantaranya adalah literatur klasik, dan teman-teman saya heran bin bingung bertanya-tanya “kok, bisa?”, dan tentu saja jawaban saya adalah bisa-bisa aja. Saya membeli buku-buku tersebut di bazar (diskon 50%), beberapa toko buku bekas, dan salah satu toko buku ternama. Saya mendapatkan buku-buku tersebut dengan harga yang sangat muraaaah, yaitu separuh atau bahkan lebih dari separuh harga normalnya. Tapi ada juga sih buku yang saya beli dengan harga normalnya.

23032013244

  1. Botchan (baru) Rp.32.000
  2. The Secret Life of Bees (baru) Rp.60.000
  3. Heidi (baru) Rp.19.500
  4. Little Men (baru) Rp.27.000
  5. Oliver Twist (baru) Rp.25.000
  6. The Adventures of Tom Sawyer (baru) Rp.23.000
  7. Good Wives (baru) Rp.25.000
  8. Rush Home Road (bekas) Rp.30.000
  9. Les Miserables (baru) GRATISSS –>hadiah ulang tahun
  10. Little Women (bekas) Rp.25.000
  11. Psikologi Abnormal (bekas) Rp.40.000
  12. Kota Kecil di Padang Rumput (bekas) Rp.25.000
  13. Every Children is Heaven (bekas) Rp.25.000

“Buying books is immensely comforting. Maybe I won’t read them immediately, but they make me feel so much better whenever I’m sad and blue (unknown)”.

I Need You, Dad

3 bulan udah lewat tapi saya masih merindukan beliau setiap harinya. Kadang saya masih memimpikan beliau. Masih ingin bertemu. Dan masih banyak lagi. Saya tau bukan saya saja di dunia ini yang ditinggalkan, tapi ditinggalkan satu orang ini serasa kehilangan separuh keberanian yang saya punya. Saya benar-benar kehilangan sosok yang selalu membuat saya kuat menghadapi masalah apapun. Saya kehilangan sosok yang selalu meyakinkan saya “Jangan khawatir nak, semuanya akan baik-baik saja.”

i need you, dad!

Random

Sedang mendapat julukan “ms. sombong” dari semua orang. Sahabat SMA, teman kuliah, seseorang yang mendekati saya secara terus-terusan, dan beberapa orang lain di luar sana. Definisi sombong mereka cuma 1: gak pernah balas SMS. Dari lubuk hati yang paling dalam saya bukan tipe orang yang suka SMSan, karena saya gak punya bakat basa-basi. Terakhir kalinya saya rajin SMSan waktu masih punya pacar. Kapan itu? 20 tahun yang lalu (LOL).Saya lebih suka telpon, tapi bukan berarti saya “ms. ringring”. Apa yang sedang saya bicarakan? Ignore me!

Sedang menjadi orang yang pendiam dan menjauh dari khalayak akhir-akhir ini. Saya memiliki banyak masalah, dan saya gak terlalu suka membagi masalah saya dengan orang lain. Saya lebih suka menyimpannya sendiri dan pelan-pelan menyelesaikannya. Saya gak ingin seluruh dunia  tau masalah apa yang sedang saya hadapi.

Satu-satunya hal yang saya sukai dari masalah adalah: dia (masalah) membuat saya semakin kuat & bijak. Dan saya berterima kasih untuk itu. Awalnya saya sering mengeluh, tapi lambat laun saya semakin bersyukur. Bersyukur karena saya masih diberikan banyak cobaan dan diasah dengan cara yang berbeda. It makes me look different than others. :)<— big smile

Saya sedang menghindari seseorang yang annoying. Please, stay away from me!

Barusan dikirim kumpulan puisi oleh seorang teman. Puisi yang dia buat sendiri. Saya tau puisi-puisi itu adalah permintaan yang cukup merepotkan dan menyita waktu, tapi terima kasih banyak. Kamsahamnida 🙂

*saat ini sedang turun hujan. and i miss my dad so badly T.T

I Miss You, Dad

I know you’re in a better place
But I wish that I could see your face

I Miss You ~ Miley Cyrus

Saya baru merasakan artinya rasa kehilangan seseorang begitu dalam setelah tanggal 11 bulan lalu. Saat papa saya di panggil menghadapNYA. Kenyataan yang gak pernah saya duga sebelumnya akan terjadi. Semuanya terjadi begitu cepat. Tapi saya yakin, gak ada yang lebih indah daripada rencana Allah. Allah mengambil kembali apa yang menjadi milikNYA. Dan kita yang ditinggalkan harus ikhlas.

Kematian papa saya yang mendadak merupakan cobaan terberat yang pernah saya alami. Dan kurang lebih cobaan itu cukup mempengaruhi saya dalam memandang hidup dan kematian. Selain itu, saya juga merasakan perubahan positif dalam diri saya. Saya merasa menjadi orang yang lebih baik lagi. Saya merasa ada sesuatu yang harus saya perjuangkan.

Papa saya adalah orang yang paling saya cintai di dunia ini. Saya mencintai dan menghormati beliau bukan hanya karena beliau adalah papa saya. Tapi sebagai manusia, beliau adalah orang tersabar dan terbaik yang pernah saya kenal. Dan saya bangga mewarisi beberapa sifat terbaik dari beliau. Beliau bukan pribadi yang banyak bicara. Beliau gak pernah membesar-besarkan hal-hal kecil. Beliau selalu mendahulukan kepentingan orang lain. Beliau adalah satu-satunya orang yang selalu meyakinkan saya bahwa semuanya akan baik-baik saja, agar saya gak khawatir. Beliau gak pernah menceramahi saya tentang hidup. Beliau menunjukannya  pada saya agar saya belajar. Terutama belajar menghargai orang lain. Dan belajar menghargai dan mendahulukan kepentingan orang lain adalah pelajaran hidup terakhir yang saya dapatkan dari beliau tanggal 20 November 2010, 2 tahun lalu. Malam itu adalah malam terakhir saya bertemu beliau, setelah 6 tahun kami gak bertemu. 2 tahun lalu adalah reuni terakhir saya dan papa saya. Dan beliau telah mengajarkan saya pelajaran berharga. Thank you dad

Perpisahan ini semacam patah hati yang paling sakit jiwa. Dimana setiap malam saya masih merindukan beliau. Saya masih menangisi kepergian beliau, walaupun sebulan udah berlalu. Gak ada yang lebih brengsek dari merasa kehilangan akan seseorang yang kita rindukan. Seseorang yang gak akan pernah kembali lagi walaupun kita memohon dengan berbagai cara. Itu semacam kenyataan pahit yang harus saya telan hidup-hidup.

Semacam ada penyesalan mendalam karena saya merasa banyak hal yang saya lewatkan tanpa papa saya. Saya menyesal karena telah membuat beliau merasa kesepian. Saya menyesal karena telah membuat beliau menunggu sekian lama untuk kembali bertemu. Saya menyesal karena beliau gak akan pernah datang di setiap momen penting dalam hidup saya. Menyaksikan saya wisuda, menikah, dan melihat saya tumbuh menjadi pribadi yang dewasa. Dan seandainya waktu bisa diputar kembali, saya hanya ingin bilang bahwa saya benar-benar mencintai beliau, and  please dont die.