I Miss You, Dad

But I wish that I could see your face

I Miss You ~ Miley Cyrus

Saya baru merasakan artinya rasa kehilangan seseorang begitu dalam setelah tanggal 11 bulan lalu. Saat papa saya di panggil menghadapNYA. Kenyataan yang gak pernah saya duga sebelumnya akan terjadi. Semuanya terjadi begitu cepat. Tapi saya yakin, gak ada yang lebih indah daripada rencana Allah. Allah mengambil kembali apa yang menjadi milikNYA. Dan kita yang ditinggalkan harus ikhlas.

Kematian papa saya yang mendadak merupakan cobaan terberat yang pernah saya alami. Dan kurang lebih cobaan itu cukup mempengaruhi saya dalam memandang hidup dan kematian. Selain itu, saya juga merasakan perubahan positif dalam diri saya. Saya merasa menjadi orang yang lebih baik lagi. Saya merasa ada sesuatu yang harus saya perjuangkan.

Papa saya adalah orang yang paling saya cintai di dunia ini. Saya mencintai dan menghormati beliau bukan hanya karena beliau adalah papa saya. Tapi sebagai manusia, beliau adalah orang tersabar dan terbaik yang pernah saya kenal. Dan saya bangga mewarisi beberapa sifat terbaik dari beliau. Beliau bukan pribadi yang banyak bicara. Beliau gak pernah membesar-besarkan hal-hal kecil. Beliau selalu mendahulukan kepentingan orang lain. Beliau adalah satu-satunya orang yang selalu meyakinkan saya bahwa semuanya akan baik-baik saja, agar saya gak khawatir. Beliau gak pernah menceramahi saya tentang hidup. Beliau menunjukannya  pada saya agar saya belajar. Terutama belajar menghargai orang lain. Dan belajar menghargai dan mendahulukan kepentingan orang lain adalah pelajaran hidup terakhir yang saya dapatkan dari beliau tanggal 20 November 2010, 2 tahun lalu. Malam itu adalah malam terakhir saya bertemu beliau, setelah 6 tahun kami gak bertemu. 2 tahun lalu adalah reuni terakhir saya dan papa saya. Dan beliau telah mengajarkan saya pelajaran berharga. Thank you dad

Perpisahan ini semacam patah hati yang paling sakit jiwa. Dimana setiap malam saya masih merindukan beliau. Saya masih menangisi kepergian beliau, walaupun sebulan udah berlalu. Gak ada yang lebih brengsek dari merasa kehilangan akan seseorang yang kita rindukan. Seseorang yang gak akan pernah kembali lagi walaupun kita memohon dengan berbagai cara. Itu semacam kenyataan pahit yang harus saya telan hidup-hidup.

Semacam ada penyesalan mendalam karena saya merasa banyak hal yang saya lewatkan tanpa papa saya. Saya menyesal karena telah membuat beliau merasa kesepian. Saya menyesal karena telah membuat beliau menunggu sekian lama untuk kembali bertemu. Saya menyesal karena beliau gak akan pernah datang di setiap momen penting dalam hidup saya. Menyaksikan saya wisuda, menikah, dan melihat saya tumbuh menjadi pribadi yang dewasa. Dan seandainya waktu bisa diputar kembali, saya hanya ingin bilang bahwa saya benar-benar mencintai beliau, and  please dont die.

Advertisements

Published by

Rafida Djakiman

librocubicularists📖.ambonese.movie enthusiast

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s