Random

Sedang mendapat julukan “ms. sombong” dari semua orang. Sahabat SMA, teman kuliah, seseorang yang mendekati saya secara terus-terusan, dan beberapa orang lain di luar sana. Definisi sombong mereka cuma 1: gak pernah balas SMS. Dari lubuk hati yang paling dalam saya bukan tipe orang yang suka SMSan, karena saya gak punya bakat basa-basi. Terakhir kalinya saya rajin SMSan waktu masih punya pacar. Kapan itu? 20 tahun yang lalu (LOL).Saya lebih suka telpon, tapi bukan berarti saya “ms. ringring”. Apa yang sedang saya bicarakan? Ignore me!

Sedang menjadi orang yang pendiam dan menjauh dari khalayak akhir-akhir ini. Saya memiliki banyak masalah, dan saya gak terlalu suka membagi masalah saya dengan orang lain. Saya lebih suka menyimpannya sendiri dan pelan-pelan menyelesaikannya. Saya gak ingin seluruh dunia  tau masalah apa yang sedang saya hadapi.

Satu-satunya hal yang saya sukai dari masalah adalah: dia (masalah) membuat saya semakin kuat & bijak. Dan saya berterima kasih untuk itu. Awalnya saya sering mengeluh, tapi lambat laun saya semakin bersyukur. Bersyukur karena saya masih diberikan banyak cobaan dan diasah dengan cara yang berbeda. It makes me look different than others. :)<— big smile

Saya sedang menghindari seseorang yang annoying. Please, stay away from me!

Barusan dikirim kumpulan puisi oleh seorang teman. Puisi yang dia buat sendiri. Saya tau puisi-puisi itu adalah permintaan yang cukup merepotkan dan menyita waktu, tapi terima kasih banyak. Kamsahamnida 🙂

*saat ini sedang turun hujan. and i miss my dad so badly T.T

Advertisements

I Miss You, Dad

I know you’re in a better place
But I wish that I could see your face

I Miss You ~ Miley Cyrus

Saya baru merasakan artinya rasa kehilangan seseorang begitu dalam setelah tanggal 11 bulan lalu. Saat papa saya di panggil menghadapNYA. Kenyataan yang gak pernah saya duga sebelumnya akan terjadi. Semuanya terjadi begitu cepat. Tapi saya yakin, gak ada yang lebih indah daripada rencana Allah. Allah mengambil kembali apa yang menjadi milikNYA. Dan kita yang ditinggalkan harus ikhlas.

Kematian papa saya yang mendadak merupakan cobaan terberat yang pernah saya alami. Dan kurang lebih cobaan itu cukup mempengaruhi saya dalam memandang hidup dan kematian. Selain itu, saya juga merasakan perubahan positif dalam diri saya. Saya merasa menjadi orang yang lebih baik lagi. Saya merasa ada sesuatu yang harus saya perjuangkan.

Papa saya adalah orang yang paling saya cintai di dunia ini. Saya mencintai dan menghormati beliau bukan hanya karena beliau adalah papa saya. Tapi sebagai manusia, beliau adalah orang tersabar dan terbaik yang pernah saya kenal. Dan saya bangga mewarisi beberapa sifat terbaik dari beliau. Beliau bukan pribadi yang banyak bicara. Beliau gak pernah membesar-besarkan hal-hal kecil. Beliau selalu mendahulukan kepentingan orang lain. Beliau adalah satu-satunya orang yang selalu meyakinkan saya bahwa semuanya akan baik-baik saja, agar saya gak khawatir. Beliau gak pernah menceramahi saya tentang hidup. Beliau menunjukannya  pada saya agar saya belajar. Terutama belajar menghargai orang lain. Dan belajar menghargai dan mendahulukan kepentingan orang lain adalah pelajaran hidup terakhir yang saya dapatkan dari beliau tanggal 20 November 2010, 2 tahun lalu. Malam itu adalah malam terakhir saya bertemu beliau, setelah 6 tahun kami gak bertemu. 2 tahun lalu adalah reuni terakhir saya dan papa saya. Dan beliau telah mengajarkan saya pelajaran berharga. Thank you dad

Perpisahan ini semacam patah hati yang paling sakit jiwa. Dimana setiap malam saya masih merindukan beliau. Saya masih menangisi kepergian beliau, walaupun sebulan udah berlalu. Gak ada yang lebih brengsek dari merasa kehilangan akan seseorang yang kita rindukan. Seseorang yang gak akan pernah kembali lagi walaupun kita memohon dengan berbagai cara. Itu semacam kenyataan pahit yang harus saya telan hidup-hidup.

Semacam ada penyesalan mendalam karena saya merasa banyak hal yang saya lewatkan tanpa papa saya. Saya menyesal karena telah membuat beliau merasa kesepian. Saya menyesal karena telah membuat beliau menunggu sekian lama untuk kembali bertemu. Saya menyesal karena beliau gak akan pernah datang di setiap momen penting dalam hidup saya. Menyaksikan saya wisuda, menikah, dan melihat saya tumbuh menjadi pribadi yang dewasa. Dan seandainya waktu bisa diputar kembali, saya hanya ingin bilang bahwa saya benar-benar mencintai beliau, and  please dont die.