Tragedy Of The Common

Pertama kali tau istilah “Tragedy of the Common” saat saya mengambil mata kuliah Politik Sumberdaya Alam. Teori yang dicetuskan oleh Garret Hardin ini menjelaskan bahwa:

Jika banyak individu yang memanfaatkan sumberdaya secara bersama-sama, maka dapat dipastikan ujungnya adalah kerusakan lingkungan, karena tidak ada yang merasa bertanggung jawab melestarikannya.

Tragedy of the common sekarang terjadi di daerah di mana saya tumbuh besar, Pulau Buru. Munculnya emas di beberapa tempat membuat masyarakat lokal bahkan masyarakat dari luar Pulau Buru berbondong-bondong mengeksploitasi SDA yang bersifat open acces tersebut secara berlebihan. Kenapa saya sebut open acces? Karena tidak jelas siapa yang memiliki SDA tersebut. Kenapa saya sebut berlebihan? Karena dampak yang dihasilkan pun berlebihan, terutama pada lingkungan.

Munculnya pertambangan emas yang ada secara tiba-tiba tersebut memberi dampak langsung kepada masyarakat. Hal ini dapat dilihat dalam tiga dimensi yang berbeda, yaitu:

Pertama, dimensi sosial. Dapat dilihat dari bergesernya mata pencaharian masyarakat Buru yang sebagian besar adalah petani, buruh, dan nelayan menjadi penambang. Bahkan lebih gilanya ada beberapa PNS yang bolos dari tugasnya untuk menjadi penambang. Akibatnya, sekarang beras harus dipasok dari luar daerah karena sekarang tidak ada lagi yang pergi menanam padi di sawah.  Padahal Pulau Buru pernah diresmikan oleh Presiden sebagai lumbung padi Indonesia Timur. Harga ikan dan sayuran melambung tinggi karena gak ada lagi yang mau melaut maupun berkebun. Padahal dengan bekerja sebagai petani atau nelayan, mereka memiliki keindependenan dan keberlanjutan dalam bekerja dibandingkan jadi penambang. Karena emas termasuk dalam kategori unrenewable resources yaitu sumberdaya alam yang dapat habis karena sifatnya yang tidak bisa diganti oleh proses alam. Dan setelahnya, apakah pengangguran merupakan sebuah solusi?

Kedua, dimensi ekonomi. Pada bagian ini, perekonomian masyarakat Buru tumbuh dengan sangat pesat sebagai salah satu dampak dari aktivitas pertambangan. Pasar, toko sembako, dan warung makan ikut berkembang dari penerimaan keuntungan. Beberapa masyarakat Buru  yang tadinya tidak memiliki mobil, motor, bahkan rumah, kini sudah memilikinya. Namun, kesejahteraan ini merupakan suatu bentuk kesejahteraan yang temporari dan sayangnya sebagian besar banyak dihabiskan untuk membeli barang-barang konsumtif bukan barang-barang produktif.

Ketiga, dimensi ekologi. Otomatis dapat dilihat dari kerusakan alam di daerah pertambangan dan perubahan agroekologi yang terjadi sehingga memberikan dampak yang kurang baik bagi masyarakat di sekitar daerah pertambangan.

Dampak nyata lainnya yang paling terlihat adalah banyak yang meninggal akibat tertimbun, ada yang tiba-tiba gila karena mendadak kaya raya, dan ada yang saling membunuh. Tapi satu-satunya hal yang saya sukai adalah, masyarakat adat mendapatkan hak mereka atas SDA yang ada di wilayah mereka. Bukan menjadi rahasia umum lagi kalau mereka merupakan kaum marjinal yang menjadi tamu di negerinya sendiri karena kurang diberikan akses atas SDA. Dulu, waktu saya SMP, saya punya teman sekelas orang asli masyarakat Buru. Saya pernah diajak main ke kampungnya dan mirisnya mereka sangat terbelakang. Mereka banyak ditipu oleh pendatang karena mereka tidak mengenal uang sebagai alat tukar. Sekarang, dengan adanya emas hidup mereka menjadi sangat sejahtera.

Dan yang paling bersedih atas kejadian ini adalah kepala daerah. Beliau bingung, bagaimana mengatasi permasalahan yang ada di masyarakat. Beliau berencana untuk menghentikan aktivitas pertambangan dan mengajak investor dari luar agar emas dapat dikelola dengan baik. Tapi rencana beliau mendapat  kecaman dari masyarakat. Karena mereka tidak mau menjadi seperti masyarakat Papua, yang tidak mendapatkan apa-apa dari SDA yang ada di wilayah mereka sendiri. Saya senang sih, kepala daerahnya pusing. Itu artinya beliau menyadari kelambanan beliau, bahwa beliau tidak mengarahkan semuanya dengan baik sejak awal. Agar bagaimana caranya masyarakat mendapatkan haknya dan daerah mendapatkan pemasukan untuk keperluan pembangunan maupun untuk anggaran lainnya seperti kesehatan, pendidikan, dan lain-lain.

Salah satu korban dari tragedy of the common adalah saya, karena SPP saya untuk dua semester ini belum dibayar. Padahal saya sudah hampir menyelesaikan studi. Alasannya karena daerah tidak punya duit, padahal SDA melimpah ruah. Pity!

Advertisements

Published by

Rafida Djakiman

librocubicularists📖.ambonese.movie enthusiast

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s