Dear You

Dear you…

Kalau ada yang mengetuk-ngetuk pintu hatimu, itu aku. Ingat itu!

Hai, ini aku datang lagi. Maaf, jemariku tak bisa diam merangkai aksara untuk ditujukan kepadamu. Aku tak tau, apakah ini karena efek secangkir kopi yang kulumat sejak tadi, atau karena hati terlalu merindu keseluruhanmu? Semoga kamu tak bosan membaca suratku. Atau jangan-jangan tanpa sepengetahuan ku, kamu telah berkonspirasi dengan tukang pos itu agar bagaimana caranya surat ku tak sampai padamu. Kalau iya, tolong jangan lakukan itu. Aku mohon. Karena ini satu-satunya cara aku dengan leluasa dapat berbicara padamu. Aku bukan pemain kata ulung saat berada  di depanmu. Kamu tau itu kan?

Aku rindu matamu. Boleh tatap aku sekali lagi? Aku senang tenggelam di matamu. Matamu candu dan aku ingin menua dan mati di situ. Kapan kamu kembali romantis dengan sebait puisi yang kamu buat? Aku merasa kehilangan beberapa bagian termanis dari dirimu. Kamu yang sekarang tampak serius dan kaku. Hey, bagaimana dengan Hanna?  Apakah kamu masih mencintai Hanna? Apakah kamu tak bosan dengan Hanna? Hmm, aku cemburu. Walaupun dia hanya kekasih hayalanmu, tapi dia masih jauh lebih beruntung daripada aku, karena dia masih berada dalam duniamu.

Dulu kamu bahagia kan? Jangan bilang tidak! Karena aku dapat merasakannya Tuan. Terima kasih untuk pernah bahagia sewaktu kamu berada di waktuku. Aku, jangan ditanya. Aku bahagia. Karena sesungguhnya bahagiaku itu kamu. Aku bahkan belum pernah merasa sebahagia itu dalam waktu yang cukup lama. Bertemu kamu, pencipta kata, pencinta buku, penyebab rindu. Kemudian jatuh cinta. Terjebak dalam duniamu. Menyenangkan! Dan pada akhirnya dikeluarkan paksa dari duniamu. Menyedihkan!

Tapi semua yang ada di dunia ini tak akan menjamin apa-apa. Bahkan apa yang sudah berada di genggaman belum tentu selamanya bisa digenggam. Perasaan itu dinamis. Tak ada yang abadi. Pertemuan adalah awal dari kehilangan. Terima kasih untuk mengajarkan semua itu padaku. Kamu membuatku tumbuh berkembang. Lebih kuat. Lebih dewasa. Melihat hubungan dari berbagai sisi. Menghargai apa yang dimiliki. Belajar mengatasi keterjarakan.

Terima kasih untuk pernah datang & mengukir cerita bersama waktu denganku. Sehingga aku punya bahan cerita untuk cucu-cucuku nantinya, di ruang keluarga yang hangat. Bahwa dulu, saat aku masih muda, aku pernah sangat jatuh cinta dengan seseorang yang  cerdas, bermata bagus, juga pandai menulis. Dan dia membuatku patah hati. Patah hati yang paling sakit jiwa. Tapi aku berterima kasih padanya. 🙂

Kalaupun ada yang ingin ku katakan padamu waktu lalu. Saat semuanya akan berakhir. Saat semuanya tak mampu terwakili oleh kata-kata. Saat semuanya menari-nari di kepala. Saat semuanya luruh bersama air mata. Saat semuanya tak sempat terucap kala itu, adalah:

Kalaupun kamu ingin pergi, aku tak akan menahanmu. Tapi, tak bisakah kamu melakukannya dengan cara yang lebih manis? Misalnya dengan membuatku puisi perpisahan, mungkin? Dengan menciptakan beribu alasan adalah sama sekali bukan kamu. Aku bahkan tak mengenalmu. Tapi aku mengerti semuanya. Aku lebih senang jika kamu jujur. Aku tau, bagiku mudah mengucapnya, tapi buat kamu itu sulit. Karena ada hatiku juga yang kamu pertimbangkan. Kalau kamu mau pergi, silahkan. Aku tak akan menahanmu. 🙂

Cinta tak akan mati. Ia hanya berubah wujud menjadi bentuk yang lain. 🙂

– salam hangat

P.s: Aku tak akan lupa, kalau dulu, pernah ada kamu di waktuku ~
Advertisements

Published by

Rafida Djakiman

librocubicularists📖.ambonese.movie enthusiast

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s