Dear You

Rindu itu kamu. Yang merindu itu aku ~

Sekarang sedang hujan. Makin lengkaplah sudah. Hujan, malam, kenangan, semuanya menari-nari, berpesta pora, mengobrak abrik isi kepala. Memaksa aku mengingat penyebab rindu. Kamu.

Hai kamu, apa kabar? Maaf sudah lama tak berkirim surat. Maaf juga kalau kedatangan surat ini akan mengusik harimu. Kalau kamu tak suka membacanya, simpan saja. Dan terima kasih untuk tidak pernah membaca surat ini, maupun surat yang sebelumnya. 🙂

Singkat saja. Ini tentang rindu yang tak berkesudahan. Rindu yang membuncah, meluruh mewujud air mata. Mungkin kamu bosan mendengarnya. Mungkin juga kamu bosan melihat aku mengukirnya di semua dinding linimasa. Tapi ini rindu yang tak pernah mati rasa. Jadi jangan pernah bosan dengannya. Atau malah mungkin kamu harus mulai terbiasa.

Kadang aku iri denganmu. Kenapa hanya kamu yang mewujud rindu? Kenapa aku tidak? Padahal, diam-diam aku ingin menyusup dan mengendap dalam kepalamu. Mengotak-ngatik isi kepalamu. Agar kamu juga  tau, dan merasakan bagaimana merindukan aku (?)

Aku juga iri dengan malam, dengan luas kamar kosmu, dengan buku-bukumu, dengan laptopmu, dengan lagu-lagu kesukaanmu. Karena mereka semua dengan leluasa dapat berada tepat di sampingmu. Sedangkan aku? Hanya sebatas garis rindu saja aku berani mendekatimu.

Aku harap kamu selalu baik-baik saja, selalu bahagia.

Salam…

Dari aku, yang selalu merindu –
Advertisements

Published by

Rafida Djakiman

librocubicularists📖.ambonese.movie enthusiast

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s