Posted in Thoughts

#Proyek Kebahagiaan : Mengoleksi Sesuatu

Okay, sekarang pukul 12:13am dan mata saya benar-benar masih belum menunjukan gejala ngantuk. Saya sudah mematikan notebook dari setengah jam yang lalu, dan berbaring dengan sebuah buku di tangan. Tapi sama sekali enggak ngaruh! Mata saya masih tetap tegak. Haha. Saya pikir, besok-besok saya harus meneguk secangkir susu terlebih dahulu agar saya cepat tidur. Ewww, kenyataannya saya benci susu.

Beberapa hari ini, saya memperhatikan jam biologis saya yang ternyata baru mulai ngantuk pada pukul 01:.. am. Hmm, kalau begitu mari nikmati saja dunia malam. By the way, dua hari ini saya sedang membaca buku The Happiness Project karya Gretchen Rubin, setelah sebelumnya saya melempar buku Feminist Though karya Rosemarie Putnam Tong kembali ke rak buku. Alasannya, saya butuh sesuatu yang ringan dan buku-nya Tong membuat dahi saya berkerut. Bacaan yang tidak tepat untuk situasi saya saat ini.

Seperti yang sudah saya bilang di postingan terdahulu, membaca The Happiness Project milik Gretchen membuat saya ingin membuat punya saya sendiri. Dan saya rasa, apa salahnya melakukan sesuatu yang membuat diri kita bahagia. We deserve to be happy, right? Saya juga terinspirasi dari kalimat seseorang yang ada di buku itu, yaitu:

Aku memilih untuk menjadi bahagia terlepas dari apapun kesulitan yang terjadi dalam hidupku.

Dalam buku The Happiness Project, salah satu proyek kebahagiaan Gretchen adalah mengoleksi sesuatu, dan saya terinspirasi untuk itu. Saya terinspirasi untuk mengoleksi sesuatu yang ternyata dengan memiliki benda tersebut membuat saya bahagia. Mungkin benda-benda tersebut tanpa sadar sudah saya koleksi, hanya saja saya tidak menyadarinya. Dan, koleksi-koleksi saya tersebut adalah:

1. Buku

Kecintaan saya terhadap buku tidak dapat saya deskripsikan dengan kata-kata. Memiliki sebuah buku adalah kebahagiaan terbesar dalam hidup saya. Membeli buku, mencium bau buku, duduk berjam-jam membaca buku, membuat perasaan saya bahagia. Buku memberikan ion-ion positif dalam diri saya. Saya lebih banyak membeli buku dibandingkan membeli baju atau sepatu. Mungkin buku merupakan koleksi terbanyak yang saya miliki. 😀

2. Cangkir

Saya mulai membeli cangkir beberapa tahun yang lalu di sebuah toko mungil yang menjual semua barang dengan harga enam ribu rupiah. Cangkir yang saya beli saat itu adalah sebuah cangkir mungil berwarna merah di dalamnya dan berwarna hitam di luarnya dengan corak bunga matahari. Cangkir tercantik yang pernah saya lihat dan miliki. Setelahnya di toko yang sama, saya membeli cangkir mungil berwarna putih dengan corak polkadot yang saya sering lihat di drama korea. Lebih tepatnya cangkir itu pantasnya untuk tea party. Cangkir merupakan barang wajib yang harus saya miliki karena saya adalah seorang coffee drinker, dan melihat cangkir-cangkir yang lucu selalu mendorong hasrat belanja saya untuk membelinya. Hehee. Cangkir adalah keajaiban mungil yang menghadirkan aroma kopi setiap pagi di hari-hari saya. 🙂

3. Gantungan kunci/HP

Entah sejak kapan benda ini menghiasi sudut rak buku saya, yang jelas saya punya berbagai gantungan kunci/HP yang semuanya saya dapatkan dari teman-teman saya sebagai kenang-kenangan atau oleh-oleh saat mereka bepergian ke suatu tempat. Oleh-oleh yang manis bukan? 🙂 saya berterima kasih kepada mereka, karena seumur hidup , saya belum pernah membeli gantungan apapun. Hahah

4. Pajangan

Saya menyukai sesuatu yang manis untuk menghiasi sudut ruangan atau meja belajar, atau rak buku. Saya suka membeli atau merampok barang-barang yang menurut saya unyu untuk mempermanis kamar saya. Seperti miniatur angklung, miniatur  harpa, rugby, kaktus yang terbuat dari paper craft (hasil rampokan tetangga depan kamar), dan saya juga punya miniatur tabung gas berwarna merah yang merupakan hasil rampokan dari kamar adik kelas saya di asrama. Hahah 😀

5. Quote dan puisi

Saya sangat terkagum-kagum dengan orang-orang yang mampu menyihir siapapun dengan kata-kata. Orang-orang yang saya sebut sebagai keajaiban kata-kata, pemburu aksara, pencinta kata. Yang membuat dunia menjadi lebih indah dengan indahnya puisi yang mereka buat, atau membuat saya terinspirasi dengan setiap quote yang terlontar dari mulut mereka. Saya berencana untuk mengoleksi puisi maupun quotes favorit saya di sebuah buku kecil. 🙂

Ini adalah proyek kebahagiaan pertama saya. Sampai bertemu di proyek kebahagiaan selanjutnya.

Keep reading!

Advertisements
Posted in Thoughts

Tragedy Of The Common

Pertama kali tau istilah “Tragedy of the Common” saat saya mengambil mata kuliah Politik Sumberdaya Alam. Teori yang dicetuskan oleh Garret Hardin ini menjelaskan bahwa:

Jika banyak individu yang memanfaatkan sumberdaya secara bersama-sama, maka dapat dipastikan ujungnya adalah kerusakan lingkungan, karena tidak ada yang merasa bertanggung jawab melestarikannya.

Tragedy of the common sekarang terjadi di daerah di mana saya tumbuh besar, Pulau Buru. Munculnya emas di beberapa tempat membuat masyarakat lokal bahkan masyarakat dari luar Pulau Buru berbondong-bondong mengeksploitasi SDA yang bersifat open acces tersebut secara berlebihan. Kenapa saya sebut open acces? Karena tidak jelas siapa yang memiliki SDA tersebut. Kenapa saya sebut berlebihan? Karena dampak yang dihasilkan pun berlebihan, terutama pada lingkungan.

Munculnya pertambangan emas yang ada secara tiba-tiba tersebut memberi dampak langsung kepada masyarakat. Hal ini dapat dilihat dalam tiga dimensi yang berbeda, yaitu:

Pertama, dimensi sosial. Dapat dilihat dari bergesernya mata pencaharian masyarakat Buru yang sebagian besar adalah petani, buruh, dan nelayan menjadi penambang. Bahkan lebih gilanya ada beberapa PNS yang bolos dari tugasnya untuk menjadi penambang. Akibatnya, sekarang beras harus dipasok dari luar daerah karena sekarang tidak ada lagi yang pergi menanam padi di sawah.  Padahal Pulau Buru pernah diresmikan oleh Presiden sebagai lumbung padi Indonesia Timur. Harga ikan dan sayuran melambung tinggi karena gak ada lagi yang mau melaut maupun berkebun. Padahal dengan bekerja sebagai petani atau nelayan, mereka memiliki keindependenan dan keberlanjutan dalam bekerja dibandingkan jadi penambang. Karena emas termasuk dalam kategori unrenewable resources yaitu sumberdaya alam yang dapat habis karena sifatnya yang tidak bisa diganti oleh proses alam. Dan setelahnya, apakah pengangguran merupakan sebuah solusi?

Kedua, dimensi ekonomi. Pada bagian ini, perekonomian masyarakat Buru tumbuh dengan sangat pesat sebagai salah satu dampak dari aktivitas pertambangan. Pasar, toko sembako, dan warung makan ikut berkembang dari penerimaan keuntungan. Beberapa masyarakat Buru  yang tadinya tidak memiliki mobil, motor, bahkan rumah, kini sudah memilikinya. Namun, kesejahteraan ini merupakan suatu bentuk kesejahteraan yang temporari dan sayangnya sebagian besar banyak dihabiskan untuk membeli barang-barang konsumtif bukan barang-barang produktif.

Ketiga, dimensi ekologi. Otomatis dapat dilihat dari kerusakan alam di daerah pertambangan dan perubahan agroekologi yang terjadi sehingga memberikan dampak yang kurang baik bagi masyarakat di sekitar daerah pertambangan.

Dampak nyata lainnya yang paling terlihat adalah banyak yang meninggal akibat tertimbun, ada yang tiba-tiba gila karena mendadak kaya raya, dan ada yang saling membunuh. Tapi satu-satunya hal yang saya sukai adalah, masyarakat adat mendapatkan hak mereka atas SDA yang ada di wilayah mereka. Bukan menjadi rahasia umum lagi kalau mereka merupakan kaum marjinal yang menjadi tamu di negerinya sendiri karena kurang diberikan akses atas SDA. Dulu, waktu saya SMP, saya punya teman sekelas orang asli masyarakat Buru. Saya pernah diajak main ke kampungnya dan mirisnya mereka sangat terbelakang. Mereka banyak ditipu oleh pendatang karena mereka tidak mengenal uang sebagai alat tukar. Sekarang, dengan adanya emas hidup mereka menjadi sangat sejahtera.

Dan yang paling bersedih atas kejadian ini adalah kepala daerah. Beliau bingung, bagaimana mengatasi permasalahan yang ada di masyarakat. Beliau berencana untuk menghentikan aktivitas pertambangan dan mengajak investor dari luar agar emas dapat dikelola dengan baik. Tapi rencana beliau mendapat  kecaman dari masyarakat. Karena mereka tidak mau menjadi seperti masyarakat Papua, yang tidak mendapatkan apa-apa dari SDA yang ada di wilayah mereka sendiri. Saya senang sih, kepala daerahnya pusing. Itu artinya beliau menyadari kelambanan beliau, bahwa beliau tidak mengarahkan semuanya dengan baik sejak awal. Agar bagaimana caranya masyarakat mendapatkan haknya dan daerah mendapatkan pemasukan untuk keperluan pembangunan maupun untuk anggaran lainnya seperti kesehatan, pendidikan, dan lain-lain.

Salah satu korban dari tragedy of the common adalah saya, karena SPP saya untuk dua semester ini belum dibayar. Padahal saya sudah hampir menyelesaikan studi. Alasannya karena daerah tidak punya duit, padahal SDA melimpah ruah. Pity!

Posted in Thoughts

#Random Thought

Well, I know, saya  seharusnya gak berada di kamar, menulis, dan baca buku. Seharusnya sekarang saya sedang mendaki gunung, saling berpacu dengan malam, menghirup bau pohon pegunungan, dan melihat edelweis. Tapi kenyataannya saya berada di sini, menulis postingan ini. Rencana untuk melihat edelweis gagal! Gak tau kenapa pihak penyelenggara membatalkan rencana mendaki gunung yang notabene sudah direncanakan dari jauh hari. Rasa penasaran saya terhadap edelweis sudah saya kubur dalam-dalam. Hahah, lebay amat ya. Tapi sebenarnya saya bersyukur rencana mendaki gunung dibatalkan, karena kondisi fisik saya gak siap untuk mendaki gunung setinggi itu. Saya kemarin tepar karena migrein parah. Saya alergi debu, kena debu dikit saja sudah bikin saya berbaring gak berdaya di atas kasur. Kaki saya juga lebam sana sini akibat jatuh seminggu yang lalu. Dan selain itu, cuaca hari ini juga gak bagus. Sejak Magrib tadi turun hujan rintik-rintik.

Asrama sangat sepi, hanya terdapat beberapa orang saja. Dan penghuni lantai 1 hanya 2 orang, yaitu saya dan adik kelas. Agak nyeremin sih, tapi pura-pura cuek saja. Kalo ada yang grasak grusuk di luar, saya pura-pura berdehem sekencang yang saya bisa. Saya pura-pura bernyanyi seindah yang saya bisa lakukan, agar siapapun yang ada di luar tahu kalau saya masih belum tidur. Hahaha. Asrama saya punya 2 orang satpam, tapi satpam-nya lebih memilih menjaga di asrama tetangga. Hanya pada jam-jam tertentu saja mereka  mengontrol ke sini.

Saya masih sulit untuk tidur di bawah jam 12. Jam biologis saya berubah sejak menginjak bangku kuliah. Keseringan begadang mengerjakan tugas kuliah terbawa sampe masa-masa liburan yang singkat maupun liburan panjang. Memaksa mata untuk tidur di bawah jam 12 sama halnya seperti memaksa melupakan seseorang yang masih menjadi alasan mengapa saya tersenyum. Susssaaah!

Besok saya akan main ke kota, mau ke toko buku & toko Oku Doku. Dan kalau sempat saya akan mampir ke Istana Bogor, karena lagi open house.  FYI, Oku Doku adalah toko mungil yang menjual semua barang HANYA dengan harga ENAM RIBU rupiah. Saya pernah membeli cangkir mungil, goodie bag, pot bunga, blazer, tempat file, tempat pensil, headset, kotak kado, dan masih banyak lagi  di sana. Mungkin kalau saya berbelanja di toko biasa gak akan mendapatkan barang-barang tersebut hanya dengan harga enam ribu rupiah. Dan barang-barangnya dijamin lucu dan baru. Gak ada barang bekas yang dijual di sana. Besok saya mau membeli kaktus. Setelah akuarium, sekarang saya menginginkan kaktus di kamar saya.

Posted in Thoughts

Penelitian – Edelweis – Thailand

Saya merasa ini adalah minggu terbaik buat saya, setelah melewati minggu-minggu yang melelahkan, penuh dengan emosi yang turun naik, dan masalah yang datang silih berganti. Yeah, life will always test me. By the way,  proposal penelitian saya sudah di approved, dan Insya Allah minggu depan saya sudah turun ke lapang. Lega rasanya. Dibalik cerita proposal saya, ada satu fakta yang bikin teman-teman saya tercengang! 2 bulan selama mengerjakan proposal, saya gak pernah menemui dosen pembimbing skripsi. Satu tindakan yang sangat berani. Kemarin saat mau menyerahkan draft proposal, saya mikir lama. Kira-kira dosen PS saya bakal ngamuk-ngamuk gak ya? Ketakutan saya cukup beralasan, karena 2 bulan saya gak bertemu beliau, karena saya gak pernah balas SMS beliau, karena sebelumnya ada teman saya yang didamprat habis-habisan, karena ada teman saya yang proposalnya diganti total. Lebih-lebih topik penelitian saya pernah disinggung di kelas beliau mengajar. Tapi saya tetap pergi menghadap beliau,  karena saya gak mau mencari zona aman untuk gak di “bantai”, saya gak mau lari dari masalah yang menganga di depan mata. I should have to finish my research soon. Mau dosen PS ngamuk-ngamuk dan mencoret-coret hasil kerjaan saya ya gak apa-apa. Menurut saya itulah seni dari bimbingan. Kalo gak digituin, kapan saya belajar? Setelahnya, saat saya masuk ke ruangan beliau, saat beliau tersenyum ke arah saya, saat beliau menanyakan kabar saya (bahkan keluarga saya), dan saat beliau menginterogasi proposal saya, dan saat beliau memberi tanda bahwa minggu depan saya sudah boleh ke lapang, saat itu juga seluruh ketakutan saya luruh bersamaan dengan perasaan lega. Saya merasa sangat konyol, merasa bodoh karena saya terlalu cepat menilai PS saya. I’ve learned something yesterday: jangan berburuk  sangka pada sesuatu yang belum terjadi.

Hari ini, ada kejutan yang datang tak terduga. Sebulan yang lalu saya & teman mengirim abstract untuk conference paper ke Thailand, dan hari ini saya di email bahwa abstract kami diterima. Bahagia! Ini isi email yang saya terima. 😀

Dear CASA Colleague,

Thank you for your abstract submission to the Conference on Anthropology and Sustainability in Asia (CASA 2012).

We sincerely apologize for the delay in providing information regarding registration; however, due to fewer than expected abstract submissions, the organizing committee has decided to re-schedule CASA to December 15-17, 2012 to allow more time to effectuate a proper call-for-proposals.

We shall keep your abstracts on file and welcome your attendance this coming winter. The CASA homepage has been updated to reflect these changes.

Thank you for patience and cooperation.

We hope to see you in Bangkok in December!

Yours sincerely,

Ms Asuka Shibuya

Doakan ya agar mendapat sponsor untuk membiayai kami ke sana. 🙂

Btw, hari Jum’at nanti saya bersama kurang lebih 50 orang lainnya akan mendaki Gunung Gede Pangrango. Tujuan saya mau ke sana satu : liat Edelweis. Ini adalah kali kedua setelah 2007 lalu saya mendaki gunung. Semoga lancar. Nanti saya akan membawa cerita dari atas gunung sana, dan akan saya share di sini. Akan saya foto Edelweis untuk kalian. 😀

Bai bai, I’ll see you soon! 😀

Posted in Uncategorized

Skripsi

Sore ini saya sedang berada di perpustakaan LSI. Biasa, sedang menunaikan hajat Proposal Penelitian. Yeah, saya masih stuck di proposal penelitian. Tapi saya menikmatinya. Sejak semalam saya merasa sangat bergairah untuk mengerjakan proposal. Hahaha. Keajaiban dunia! Insya Allah Jumat ini saya sudah bisa menyerahkan proposal penelitian saya yang sudah lengkap kepada dosen PS. Gak sabar rasanya untuk teriak “Hellow new chapter, I’m coming!!”. Tapi rasanya saya harus menunggu, karena mungkin harus di coret-coret dulu sama PS saya. Apalah arti skripsi tanpa coretan indah dosen. Right? ;D

Saya sadar, bahwa mungkin saya adalah orang yang lumayan lama mengerjakan proposal penelitian dibandingkan teman-tema saya yang lainnya. Bahkan sudah ada teman-teman saya yang seminar loh sodara-sodara. Saya bangga sama mereka. Selamat guys! :’)

Tapi tentunya tiap orang punya cara dan jalan masing-masing untuk mengerjakan tugas akhir mereka. Sejujurnya saya bangga sama diri saya sendiri. Karena saya mau mengambil resiko untuk keluar dari zona nyaman . Saya rasa, gak semua orang mau berlama-lama dan bersusah payah untuk membaca jurnal internasional dan english text book untuk  bahan penelitian mereka. Dan saya melakukannya. Ini semacam prestasi buat saya, dan juga teman-teman saya lainnya yang  melakukan hal serupa.

Banyak teman-teman saya yang bingung bertanya, kenapa saya belum maju-maju ke tahap selanjutnya? Saya maklum. Tapi menulis skripsi bukan perkara mudah. Menulis skripsi gak sama dengan menulis cerita fiksi, temans. saya gak bisa mengarang bebas di skripsi saya. Butuh proses berfikir yang panjang, matang, dan teliti. Dan gak hanya membutuhkan waktu sehari dua hari.

Selama kurang lebih berapa bulan semenjak judul saya di approve sama PS, baru hari ini saya  menyadari bahwa saya telah belajar banyak hal. Banyak banget. Belajar tentang kesabaran, keberanian, self control, passion, belajar ikhlas, belajar untuk gak merasa cepat puas, dan masih banyak lagi. Dan semuanya membuat saya menjadi jauh lebih matang. Skripsi mendewasakan saya.

Ada teman sekelas PSDA saya yang mengatakan seperti ini:

Saya mungkin gak akan lulus tepat waktu, tapi saya akan lulus di waktu yang tepat!

Dan saya baru menemukan makna dari kalimat itu hari ini. Lulus di waktu yang tepat adalah ketika kita dunia kampus sudah membuat karakter kamu menjadi lebih matang dan siap untuk berkontribusi di masyarakat. Melalui apa? PROSES yang dilalui selama menempuh perkuliahan. Semakin banyak tantangan yang dihadapi, semakin banyak proses yang dilalui, semakin banyak yang dipelajari, semakin kuat karakter yang dimiliki.

Nikmati proses temans, jangan dibawa stres karena hidup hanya sekali!

Posted in Uncategorized

Dear You

Dear you…

Kalau ada yang mengetuk-ngetuk pintu hatimu, itu aku. Ingat itu!

Hai, ini aku datang lagi. Maaf, jemariku tak bisa diam merangkai aksara untuk ditujukan kepadamu. Aku tak tau, apakah ini karena efek secangkir kopi yang kulumat sejak tadi, atau karena hati terlalu merindu keseluruhanmu? Semoga kamu tak bosan membaca suratku. Atau jangan-jangan tanpa sepengetahuan ku, kamu telah berkonspirasi dengan tukang pos itu agar bagaimana caranya surat ku tak sampai padamu. Kalau iya, tolong jangan lakukan itu. Aku mohon. Karena ini satu-satunya cara aku dengan leluasa dapat berbicara padamu. Aku bukan pemain kata ulung saat berada  di depanmu. Kamu tau itu kan?

Aku rindu matamu. Boleh tatap aku sekali lagi? Aku senang tenggelam di matamu. Matamu candu dan aku ingin menua dan mati di situ. Kapan kamu kembali romantis dengan sebait puisi yang kamu buat? Aku merasa kehilangan beberapa bagian termanis dari dirimu. Kamu yang sekarang tampak serius dan kaku. Hey, bagaimana dengan Hanna?  Apakah kamu masih mencintai Hanna? Apakah kamu tak bosan dengan Hanna? Hmm, aku cemburu. Walaupun dia hanya kekasih hayalanmu, tapi dia masih jauh lebih beruntung daripada aku, karena dia masih berada dalam duniamu.

Dulu kamu bahagia kan? Jangan bilang tidak! Karena aku dapat merasakannya Tuan. Terima kasih untuk pernah bahagia sewaktu kamu berada di waktuku. Aku, jangan ditanya. Aku bahagia. Karena sesungguhnya bahagiaku itu kamu. Aku bahkan belum pernah merasa sebahagia itu dalam waktu yang cukup lama. Bertemu kamu, pencipta kata, pencinta buku, penyebab rindu. Kemudian jatuh cinta. Terjebak dalam duniamu. Menyenangkan! Dan pada akhirnya dikeluarkan paksa dari duniamu. Menyedihkan!

Tapi semua yang ada di dunia ini tak akan menjamin apa-apa. Bahkan apa yang sudah berada di genggaman belum tentu selamanya bisa digenggam. Perasaan itu dinamis. Tak ada yang abadi. Pertemuan adalah awal dari kehilangan. Terima kasih untuk mengajarkan semua itu padaku. Kamu membuatku tumbuh berkembang. Lebih kuat. Lebih dewasa. Melihat hubungan dari berbagai sisi. Menghargai apa yang dimiliki. Belajar mengatasi keterjarakan.

Terima kasih untuk pernah datang & mengukir cerita bersama waktu denganku. Sehingga aku punya bahan cerita untuk cucu-cucuku nantinya, di ruang keluarga yang hangat. Bahwa dulu, saat aku masih muda, aku pernah sangat jatuh cinta dengan seseorang yang  cerdas, bermata bagus, juga pandai menulis. Dan dia membuatku patah hati. Patah hati yang paling sakit jiwa. Tapi aku berterima kasih padanya. 🙂

Kalaupun ada yang ingin ku katakan padamu waktu lalu. Saat semuanya akan berakhir. Saat semuanya tak mampu terwakili oleh kata-kata. Saat semuanya menari-nari di kepala. Saat semuanya luruh bersama air mata. Saat semuanya tak sempat terucap kala itu, adalah:

Kalaupun kamu ingin pergi, aku tak akan menahanmu. Tapi, tak bisakah kamu melakukannya dengan cara yang lebih manis? Misalnya dengan membuatku puisi perpisahan, mungkin? Dengan menciptakan beribu alasan adalah sama sekali bukan kamu. Aku bahkan tak mengenalmu. Tapi aku mengerti semuanya. Aku lebih senang jika kamu jujur. Aku tau, bagiku mudah mengucapnya, tapi buat kamu itu sulit. Karena ada hatiku juga yang kamu pertimbangkan. Kalau kamu mau pergi, silahkan. Aku tak akan menahanmu. 🙂

Cinta tak akan mati. Ia hanya berubah wujud menjadi bentuk yang lain. 🙂

– salam hangat

P.s: Aku tak akan lupa, kalau dulu, pernah ada kamu di waktuku ~
Posted in Thoughts

Dear You

Rindu itu kamu. Yang merindu itu aku ~

Sekarang sedang hujan. Makin lengkaplah sudah. Hujan, malam, kenangan, semuanya menari-nari, berpesta pora, mengobrak abrik isi kepala. Memaksa aku mengingat penyebab rindu. Kamu.

Hai kamu, apa kabar? Maaf sudah lama tak berkirim surat. Maaf juga kalau kedatangan surat ini akan mengusik harimu. Kalau kamu tak suka membacanya, simpan saja. Dan terima kasih untuk tidak pernah membaca surat ini, maupun surat yang sebelumnya. 🙂

Singkat saja. Ini tentang rindu yang tak berkesudahan. Rindu yang membuncah, meluruh mewujud air mata. Mungkin kamu bosan mendengarnya. Mungkin juga kamu bosan melihat aku mengukirnya di semua dinding linimasa. Tapi ini rindu yang tak pernah mati rasa. Jadi jangan pernah bosan dengannya. Atau malah mungkin kamu harus mulai terbiasa.

Kadang aku iri denganmu. Kenapa hanya kamu yang mewujud rindu? Kenapa aku tidak? Padahal, diam-diam aku ingin menyusup dan mengendap dalam kepalamu. Mengotak-ngatik isi kepalamu. Agar kamu juga  tau, dan merasakan bagaimana merindukan aku (?)

Aku juga iri dengan malam, dengan luas kamar kosmu, dengan buku-bukumu, dengan laptopmu, dengan lagu-lagu kesukaanmu. Karena mereka semua dengan leluasa dapat berada tepat di sampingmu. Sedangkan aku? Hanya sebatas garis rindu saja aku berani mendekatimu.

Aku harap kamu selalu baik-baik saja, selalu bahagia.

Salam…

Dari aku, yang selalu merindu –