Jakarta

Jakarta yang terekam di benak semua orang pasti tugu monas, ancol, macet, banjir, kumuh, pengamen, padat, panas, dan banyak lagi. Jakarta, ibu kota negara Republik Indonesia, kota yang menurut saya gak pantas untuk menjadi sebuah ibu kota negara. Kenapa? karena Jakarta bukan tempat yang strategis untuk menjalankan sebuah pemerintahan. Jakarta terlalu padat, bising, macet, sehingga secara psikologis membuat orang-orang cepat stres. Terlebih orang yang bekerja di pemerintahan. Setiap berangkat kerja, mereka selalu dihadapkan pada kemacetan. Lelah di jalan, mood cepat berubah, terlambat tiba di kantor, dan hal-hal lainnya  yang berpengaruh terhadap performa kinerja mereka. Padahal ada banyak keputusan besar dan juga tanggung jawab yang harus mereka lakukan. Jadi ada baiknya ibu kota negara dipindahkan saja ke pulau lain, seperti Kalimantan atau Papua. Sebuah ibu kota negara harus jauh dari kebisingan dan hiruk pikuk.

Mengutip apa yang dikatakan Panji di dalam bukunya Nasional.is.me, Jakarta adalah the land of hope and dreams. Ada berjuta macam manusia yang datang ke kota ini untuk mengadu nasib. Untuk menggapai mimpi. Untuk menempatkan sepotong harapan. Jakarta itu sebenarnya kota yang cantik. Jaman Indonesia dijajah Belanda, Belanda mendirikan beberapa kanal, persis seperti kanal yang ada  di Belanda sekarang ini yang terawat dengan rapih. Tapi setelah  Indonesia merdeka, kanal-kanal itu tak ayalnya kubangan limbah industri dan sampah rumah tangga.

Banyak orang yang membenci Jakarta, tapi gak dengan saya. Saya menyukai Jakarta dengan segala kemacetannya, dengan segala romantisme  lampu-lampu jalannya pada saat malam hari, dan juga kota tuanya. Kota tua adalah tempat favorit saya di ibu kota. Saya gak akan pernah bosan untuk selalu berkunjung ke kota tua, tepatnya saya jatuh cinta dengan kota tua. Jatuh cinta berkali-kali. Alasannya sederhana, saya menyukai sejarah, museum, dan juga gedung-gedung tua. Dan menurut saya, untuk daerah Jabodetabek, cuma kota tualah tempat dimana saya bisa melihat sejarah masa lalu, dan membayangkan saya berada di dalamnya, di masa lalu. Tapi sayangnya, museum-museum dan bangunan arsip nasional lainnya harus bersaing dengan pusat perbelanjaan yang tersebar dimana-mana. Menyedihkan!

Apapun kondisi Jakarta, saya selalu rindu untuk selalu datang ke sana. Jakarta menyimpan cerita masa lalu dengan seseorang yang pernah menggenggam tangan saya, saat saya dan dia menyusuri jalanan ibu kota yang  bising dan ramai. Ada damai disana. Kedamaian yang hadir lewat hiruk pikuk. 🙂

Advertisements

Published by

Rafida Djakiman

librocubicularistsđź“–.ambonese.movie enthusiast

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s