What Is Life Without A Good Book

Saya sangat menyukai buku. Kegilaan saya terhadap makhluk mungil yang bernama buku bermula sejak saya masih SD. Sewaktu kecil, saya suka membaca apa saja, entah itu majalah, surat kabar, atau buku. Apapun yang ada di hadapan saya pada saat itu, saya baca. Karena selain suka baca, saya juga punya rasa ingin tahu yang besar. Namun, orang tua saya bukanlah orang tua yang membiasakan anak-anaknya membaca, atau menghadiahkan anaknya dengan buku-buku bacaan. Yah, mungkin buku tulis atau buku pelajaran saja. Jadi untuk menyalurkan minat baca yang saya miliki, saya selalu mendatangi perpustakaan sekolah. Buku-buku yang berada di perpustakaan SD pada saat itu sebagian besar adalah buku-buku cerita. Makin betahlah saya berlama-lama di perpustakaan. Saya mulai berimajinasi, menciptakan karakter sendiri, dan  mulai  menulis cerita pendek, cerita yang sangat-sangat pendek.  😀

 

Setelah saya duduk di bagku SMP, saya tinggal bersama om dan tante saya yang sama-sama berprofesi sebagai guru. Di rumah om dan tante, ada rak buku yang lumayan besar. Disitu terdapat banyak buku dengan berbagai genre dan majalah sastra. Saya jatuh cinta dengan sastra mulai saat itu. Selain majalah sastra, saya juga menyukai buku puisi dan novel sastra. Favorit saya adalah novel Salah Asuhan karya Abdul Muis dan buku puisi AKU karya Chairil Anwar.

Sekian lama berkutat dengan buku-buku yang ada di rumah, akhirnya saya membeli buku pertama saya dengan uang saya sendiri. Uang yang saya dapatkan dari hasil mengikuti lomba speech contest dan debating english competition pada saat SMA. Bahagianya luar biasa. Buku pertama yang saya beli pada saat itu adalah buku Life Strategies For Teens karya Jay McGraw. Heheh, maklum masih remaja saat itu. Menginjak bangku kuliah, saya mulai mengoleksi berbagai buku. Saya malah lebih banyak membeli buku dibandingkan beli baju dan makanan.

Berbicara mengenai buku tentu gak lepas dari toko buku dan perpustakaan. Keduanya adalah tempat favorit saya. Saya sering menghabiskan waktu di toko buku, membaca buku sampai selesai. Dan setelah selesai membaca buku tersebut, saya membelinya. Kata teman saya, itu adalah tindakan yang menghambur-hamburkan uang. Menurutnya ngapain harus beli buku kalau buku tersebut sudah dilahap sampai habis. Mungkin teman saya ada benarnya juga. Tapi bagi saya, kalau masalah buku itu perkara lain. Memiliki sebuah buku merupakan kebanggaan dan kebahagiaan buat saya. Jadi bagi saya gak ada yang namanya menghambur-hamburkan uang. Toh, ini ilmu juga kan.

Kalau yang pernah nonton film AADC pasti pada tau salah satu tempat di Jakarta yang bernama Kwitang. Ceritanya, saya adalah salah satu korban film AADC. Setelah nonton film itu, saya sangat terobsesi dengan Kwitang. Saya  membayangkan suatu saat saya bisa ke sana dan bertemu dengan Rangga *eh 😛 Saya menjadikan Kwitang sebagai salah satu tempat yang harus saya kunjungi.  Dan Alhamdulillah, pada Februari 2011 kemarin, saya memiliki kesempatan untuk pergi ke sana (terimakasih Banga Al). Tapi Kwitang yang ada sekarang ternyata gak seperti Kwitang yang ada di film AADC, karena ternyata gak ada Rangga di sana. Hahaha, mulai ngawur nih. Kwitang yang sekarang ini kebanyakan menjual buku-buku fotokopian (Baca: bajakan). Selain Kwitang, ada juga toko buku mungil di sekitar lingkungan kampus yang jadi tempat favorit saya. Namanya TOBE.

TOBE buat saya pribadi adalah surga  yang menjual buku-buku bekas dengan harga yang murah dibandingkan harga aslinya. Ada beberapa novel dan buku berbahasa inggris favorit saya yang saya beli di TOBE. TOBE sering saya jadikan tempat persinggahan maupun tempat pelarian. Saya sering menghabiskan waktu disela-sela menunggu kelas kuliah atau menunggu hujan reda untuk baca buku ataupun majalah di sini. Penjaga  kiosnya baik banget, karena sudah membolehkan saya baca buku selama berjam-jam di kios bukunya. Gumawo Ajhussi 😀

Selain Kwitang dan TOBE, ada juga toko buku bekas di salah satu mall di Bekasi yang jadi tempat langganan saya. Harga buku di toko itu lebih murah dibandingkan Kwitang dan TOBE. Buku-bukunya lebih beragam, versi asli, dan sebagian besar adalah buku-buku best seller. Tempatnya pun lebih luas dan nyaman karena ada bangku buat baca.

Nah, dengan adanya surga buku-buku bekas itu, saya akhirnya memiliki hobi baru, mengoleksi buku-buku tua. 🙂

Keep Reading!!
 
– Much Love 🙂
Advertisements

Published by

Rafida Djakiman

librocubicularists📖.ambonese.movie enthusiast

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s