Personal Commitment To Save The Earth

Masih pada ingat Earth Hour kan? Kegiatan memadamkan lampu dan peralatan listrik selama satu jam untuk meningkatkan kesadaran atas perlunya tindakan untuk mengatasi perubahan iklim. Earth Hour ini dilaksanakan setiap tanggal 31 Maret  mulai pukul 20.30 sampai pukul 21.30. Selain memadamkan lampu dan peralatan listrik, juga ada berbagai kegiatan kreatif lainnya yang dilakukan oleh banyak orang sebagai bentuk peduli mereka terhadap bumi. Saya juga ikut berpartisipasi pada saat itu. Lampu kamar dan peralatan listrik lainnya gak saya nyalakan. Dan jujur aja, saya baru mengetahui adanya kegiatan Earth Hour pada tahun ini. Hellowww, kemana aja saya selama ini? heheh. Padahal di Indonesia sendiri, kegiatan Earth Hour ini sudah berjalan sejak tahun 2008.

Nah, setelah kegiatan Earth Hour kemarin selesai, saya terinspirasi untuk melakukan banyak tindakan sebagai bentuk peduli saya terhadap bumi. Tindakan yang saya mulai dari diri saya sendiri.

1. Earth Hour

Memadamkan lampu dan peralatan listrik mulai pukul 20.30-21.30 setiap hari.

2. Don’t receive plastic bags from super markets

Tindakan ini sudah saya lakukan sejak lama. Kalau berbelanja ke super market saya menolak untuk menerima plastik. Saya memilih untuk memasukan barang belanjaan ke dalam tas khusus belanja atau tas yang biasa dipakai untuk kuliah. Dan saya akan terus melakukannya. Karena plastik-plastik yang ada selama ini membutuhkan waktu ratusan tahun untuk bisa di daur ulang. Mungkin kita gak akan hidup selama itu, tapi ingat. Anak cucu kita!

3. Bawa tempat sendiri saat belanja sayur atau buah

Ini belum saya lakukan, karena baru terpikirkan kemarin. Hehe. Dengan membawa tempat sendiri seperti tupperware,kita bisa menolak plastik yang ditawarkan untuk membungkus belanjaan. Sayuran atau buah yang dibeli juga akan terhindar dari zat kimia yang ada pada plstik.

4. Bawa minum dari rumah 

I have 1 plastic bottle for my water so I dont buy plastic bottled water anymore. Selain hemat, dengan membawa minum sendiri juga membuat kita gak mengotori bumi dengan sampah kemasan botol plastik bekas minuman.

5. Buang sampah pada tempatnya

Ini adalah tindakan yang sangat sederhana. Buanglah sampah pada tempatnya. Jangan biarkan bumi kita tercemar.

6. Gunakan kertas bekas

Membayangkan jutaan pohon ditebang untuk membuat kertas saja sudah membuat saya bergidik ngeri. Mari bergaya hidup paperless. Gunakan kertas bekas untuk membuat tugas. Atau kalau mau mengumpulkan tugas, lebih baik melalui email saja. Lebih hemat, praktis, dan ramah lingkungan.

Ini adalah bentuk perjuangan yang akan saya lakukan untuk menyelamatkan bumi. I might not change the world, but I hope I will make a difference. Saya yakin, pasti kalian juga punya tindakan lain atau serupa sebagai bentuk peduli terhadap bumi.

Lets be environment friendly!! 😀

Advertisements

Cuap-Cuap Tengah Malam

Selamat tengah malam… hehehe

Sambil menyeruput secangkir kopi, mendengarkan Jar of Heart-nya Christina Perri, saya mulai bertualang lagi di blog ini.  Saat ini saya membayangkan sedang berada di kedai kopi “Toi-Toi”, duduk manis sambil ditemani secangkir kopi dan sebuah buku. Secangkir kopi yang benar-benar enak. Kedai kopi  yang diceritakan sangat apik oleh Mba Windy Ariestanty di buku Life Traveler itu berada di pedesaan Republik Ceska. Cara Mba Windy menuturkan pengalamannya di kedai kopi “Toi-Toi” benar-benar bikin saya ngiler setengah mati. Saya ingin ke sana, menikmati harum kopi bercampur dengan bau kayu bakar di perapian yang menggoda hidung itu. Menikmati suasana akrab dengan wajah-wajah asing dari berbagai belahan dunia. Ah, semoga saja saya bisa ke sana. Entah di masa yang mana. 🙂

Btw, saya sedang mencoba kopi baru yang saya beli di supermarket tadi. Harganya lebih mahal (untuk kantong mahasiswa) dari Coffeelicious favorit saya. Harganya sama dengan sebungkus roti gandum. Tapi setelah saya mencobanya, hmmm, delicious! Gak rugi la yaaa. 😉

Sore tadi ada teman saya yang sms menawarkan pekerjaan sampingan. Dalam benak saya pada saat itu adalah pekerjaan yang menguras otak dan tenaga. Singkatnya kami berdua janjian bertemu selepas Magrib di sebuah kedai makan. Setelah memesan sepiring nasi goreng dan segelas es jeruk, teman saya bilang “Kamu gak usah bayar, saya traktir.” saya bersorak dalam hati. Maklum mahasiswa. Hehe. Setelah makanan datang dan bersiap-siap untuk suapan pertama, teman saya memulai perbincangan sambil mengeluarkan sebuah katalog yang udah gak asing lagi buat saya. Perasaan saya mulai gak enak, tapi tetep aja sesuap nasi goreng mendarat dengan lancar di mulut saya. Teman saya bilang ” Gini loh, saya mau ngajak kamu gabung di MLM (Multi Level Marketing) ini bla bla bla bla …..” rasanya saat itu juga saya pengen bilang gak usah traktir saya dan dimana pintu keluarnya. Oh muy Gawd! Lagi-lagi saya terjebak di situasi dimana saya gak pengen berada di sana. Well, kejadian yang sama terulang kembali. Kejadian dimana saya merasa seperti dihipnotis, diajak untuk sukses, kaya, dengan hanya mencari jaringan dan menjual produk. Tuhan, saya gak berbakat untuk hal yang satu itu. Kalau saya berbakat, hari ini saya sudah menjadi mahasiswi Marketing.

Saya bukan orang yang anti sama MLM. Helloww, siapa saya? bukan itu. Saya sangat setuju dengan adanya MLM, hidup mereka berubah, mereka sangat optimis, punya motivasi yang tinggi, memiliki jaringan yang luas, dan wow kaya raya. Dan saya suka orang-orang seperti itu. Orang-orang yang memandang hidup penuh optimis. Saya malah berfikir, lebih baik jutaan rakyat Indonesia yang tergolong miskin ikut MLM biar punya penghasilan. Biar ni negara jadi negara yang makmur karena punya rakyat yang hidupnya makmur juga. Iya gak? Tapi masing-masing orang punya pandangan yang berbeda tentang kebahagiaan, kerja keras, sukses, dan hidup. Ya, mungkin bagi sebagian orang kerja keras adalah dengan mengikuti MLM. Sukses dan bahagia adalah ketika punya duit milyaran rupiah di rekening, punya mobil, dan rumah mewah. Hidup adalah untuk mencari uang sebanyak-banyaknya.

Buat saya, hidup adalah ketika saya bermanfaat untuk semua orang. Kerja keras adalah ketika otak dan tenaga saya kerahkan untuk mencapai passion saya. Sukses adalah ketika saya berhasil mencapai apa yang menjadi passion saya. Bahagia adalah ketika saya melakukan apa yang saya suka, apa yang menjadi passion saya. Saya ingin melakukan sesuatu bukan karena saya pengen punya duit banyak. Walaupun ada joke  “Yang bilang money can’t buy happiness itu pasti gak tau gimana caranya belanja dan gak tau mesti belanja dimana.” hahaha 😀

MLM bukan passion saya. That’s all!

– Good night

Willing To Let Go

Saya pernah membaca novel dan menemukan sebuah quote seperti ini

Semua punya masa kadaluwarsa. Termasuk rasa.

Saya setuju dengan quote di atas. Rasa punya masa kadaluwarsa. Mau seberapa lama rasa itu bertahan lama dalam sebuah hati, ketika waktunya telah tiba, pasti ia akan kadaluwarsa. Mungkin yang namanya kadaluwarsa disini adalah mati rasa, bosan.

Saya pernah menyimpan rasa terhadap seseorang dalam waktu yang cukup lama. Mungkin masih, entahlah! Rasa yang kadang membuat saya jatuh merindu, kadang membuat saya senyam senyum sendiri . Terdengar konyol, yeah! Apalagi untuk sebuah hubungan yang sudah berakhir lumayan lama. Tapi saya menikmatinya. Teman-teman saya sering bingung bin heran saat saya bilang saya masih menyukai orang yang sama. Dan komentar mereka kurang lebih sama.

“Helloww, find a new guy! Ngapain lo masih mikirin orang yang belum tentu mikirin lo balik?

Mereka benar.  Dan akhirnya waktu menyadarkan saya bahwa mau seberapa besar perasaan saya terhadap seseorang, saya tetap harus berhenti. Saya harus menghargai diri saya sendiri. Saya harus berhenti dan merelakan semua yang ada di hati. Merelakan hal-hal yang sudah terjadi di masa lalu dan membiarkan semua terjadi apa adanya. Dengan begitu saya bisa bersiap-siap untuk menyambut sesuatu yang baru. Atau seseorang. Yah, seseorang yang baru.

Stop does not mean you’re decide to give up.
Stop means you’re mature enough not to pursue a futile things.
Stop means you’re willing to let go.

– Ayu Prameswari

Ada saat dimana kita tidak perlu menoleh ke belakang. Jangan lihat lagi apa yang sudah (ikhlas) kita tinggalkan. Aku percaya, itu akan meringankan langkah, untuk menjemput sesuatu yang baru. Sesuatu yang lebih melegakan. Sesuatu yang membuat kita bersyukur, karena menjemputnya dengan tangan yang sengaja sudah dikosongkan.

– Rahne

Asli Atau Bajakan?

Annyeong haseyo…..

Kemarin waktu buka akun FB, ada sahabat saya yang bertanya seperti ini:

Dan saya menjawab:

Awalnya agak dilema mau menjawab apa. Tapi akhirnya saya menjawab seperti apa yang ada di atas. Kalau saya disuruh memilih buku 1 buku asli atau 3 buku bajakan, maka saya akan memilih 1 buku asli. Alasan saya sederhana, buku asli lebih awet dibandingkan buku bajakan. Selain itu, saya juga menghargai sang penulis dengan membeli buku aslinya.

Sekarang banyak beredar produk bajakan di pasaran, entah itu CD ataupun buku. Sampai-sampai banyak musisi yang memprotes aksi pembajakan yang dilakukan oleh berbagai oknum gak bertanggung jawab. Tapi sampai sekarang saya belum pernah mendengar penulis memprotes beredarnya buku bajakan atau fotokopian yang ada di pasaran. Entah mereka setuju atau gak produk mereka di kopi, saya gak tau. Tapi secara pribadi, saya setuju kalau ada buku bajakan yang di jual di pinggiran kaki lima atau di toko yang sangat sempit. Kenapa? Karena saya rasa yang kita butuhkan dari sebuah buku bukan asli atau palsunya, tapi ilmu yang ada di dalam buku tersebut. Saya malah berfikir bahwa pasti banyak penulis senang karya mereka di baca oleh semua orang yang haus akan ilmu pengetahuan.

Tapi itu hanya pendapat saja, yang mana pendapat tersebut gak saya berlakukan untuk diri saya sendiri. Karena saya akan tetap beli buku asli. Bila perlu beli buku bekas yang penting asli, daripada saya harus beli bajakan. Karena buku-buku tersebut akan saya wariskan kepada anak cucu saya nantinya.

How about you guys?

2 Puluh 2 ; I Called It Happiness

Haloooo, apa kabar semua?? Berasa udah lama nih gak ngeblog. Hehehe

Kemarin tanggal 7 April saya berulang tahun yang ke-22. Woww, 22 tahun loh! Happy Birthday to meeehh!! 😀

22 tahun. Wow, saya gak menyangka telah berada di usia ini. Rasanya kemarin saya masih sangat imut-imutnya, masih lugu, masih cerewet, masih manjat pohon, berenang di laut, dan sekarang saya telah berada di usia 22 tahun. Usia dimana menurut saya sudah mulai harus menyiapkan diri untuk hal-hal yang lebih kompleks lagi. Pekerjaan, karir, menikah, punya anak, ngurus rumah tangga. Yyyaaaak! Rasanya mual membayangkan semuanya. Saya masih ingin bersenang-senang menikmati masa muda, backpacking keliling dunia, nonton konser artis pujaan saya, menulis buku, lanjut master ke luar negri, dan masih banyak lagi. Tapi saya bersyukur pada Allah, karena saya masih diberikan umur panjang, kesehatan, dan usia 22 ini! Thanks God :*

Mengawali usia 22, saya merenung tentang banya hal. Tentang semua yang sudah saya lakukan selama ini. Saya flashback lagi ke masa kecil, dan pada saat itu yang terbayang di hadapan saya adalah Mama. Yah, mama. Mengingat sosok Mama pada malam ulang tahun saya kemarin buat saya menangis sesenggukan. Membayangkan 22 tahun lalu beliau berjuang melahirkan saya, kemudian membesarkan saya dengan kasih sayang. Dan walaupun beliau bukan tipe mama mama yang merayakan ulang tahun anak-anaknya, tapi saya yakin dari jauh sana beliau selalu mendoakan yang terbaik untuk saya. Saya tau itu Ma, walaupun jarak yang terbentang diantara kita begitu luas, tapi kita selalu merekatkan cinta lewat doa. Dan satu hal yang perlu mama tau, kadang saya bersyukur kita dipisahkan oleh jarak. Karena dengan begitu, saya gak terlalu banyak menyakiti mama lewat bantahann khas anak- anak. I love you ma. You are the best mommy in the whole world! :*

Hal terbaik saat berulang tahun adalah ketika banyak orang yang ada di sekitar ikut merayakan dan merasakan kebahagiaan kita. Dini hari pada tanggal 7 April kemarin, beberapa teman-teman saya di asrama memberikan kejutan kecil dengan membawakan kue ulang tahun dengan lilin angka 22. Dan malamnya saya dikejutkan dengan kejutan mereka yang lain, kue dengan lilin angka 22, buah jeruk dengan lilin, buah apel dengan lilin. Hahaha. Dan yang membuat saya bahagia adalah, yang memberi kejutan gak hanya teman-teman seangkatan saya di asrama, tapi juga adik-adik angkatan saya yang unyu-unyu itu. They were so sweet! Hahaha. Kami ngobrol di depan kamar sambil makan dan ketawa ketiwi. Rasanya sangat jarang bertemu dengan momen seperti itu. So, I called it HAPPINESS. Saya bahagia. Terima kasih. Saya sayang kalian to the max!!

Last but not least, terima kasih untuk semua orang yang sudah mendoakan saya, baik itu lewat FB, Twitter, SMS, dan juga telepon. Terima kasih banyak ya. Semoga kalian diberikan kebahagiaan dalam hidup. Amin. 🙂

Jakarta

Jakarta yang terekam di benak semua orang pasti tugu monas, ancol, macet, banjir, kumuh, pengamen, padat, panas, dan banyak lagi. Jakarta, ibu kota negara Republik Indonesia, kota yang menurut saya gak pantas untuk menjadi sebuah ibu kota negara. Kenapa? karena Jakarta bukan tempat yang strategis untuk menjalankan sebuah pemerintahan. Jakarta terlalu padat, bising, macet, sehingga secara psikologis membuat orang-orang cepat stres. Terlebih orang yang bekerja di pemerintahan. Setiap berangkat kerja, mereka selalu dihadapkan pada kemacetan. Lelah di jalan, mood cepat berubah, terlambat tiba di kantor, dan hal-hal lainnya  yang berpengaruh terhadap performa kinerja mereka. Padahal ada banyak keputusan besar dan juga tanggung jawab yang harus mereka lakukan. Jadi ada baiknya ibu kota negara dipindahkan saja ke pulau lain, seperti Kalimantan atau Papua. Sebuah ibu kota negara harus jauh dari kebisingan dan hiruk pikuk. Contohnya ni ya, Amerika Serikat. Pusat pemerintahan Amerika berada di Washington DC, pusat perdagangan berada di New York, dan kota pelajar berada di Boston. Indonesia saya rasa mungkin harus seperti itu. Jakarta cukup aja menjadi pusat perdagangan. Biarkan pusat pemerintahan berada di pulau lain, agar orang-orang yang berada di pemerintahan dapat bekerja dengan fokus dan jauh dari pusat perbelanjaan mewah.

Jakarta adalah the land of hope and dreams. Ada berjuta macam manusia yang datang ke kota ini untuk mengadu nasib. Untuk menggapai mimpi. Untuk menempatkan sepotong harapan. Jakarta itu sebenarnya kota yang cantik. Jaman Indonesia dijajah Belanda, Belanda mendirikan beberapa kanal, persis seperti kanal yang ada  di Belanda sekarang ini yang terawat dengan rapih. Tapi setelah  Indonesia merdeka, kanal-kanal itu tak ayalnya kubangan limbah industri dan sampah rumah tangga.

Banyak orang yang membenci Jakarta, tapi gak dengan saya. Saya menyukai Jakarta dengan segala kemacetannya, dengan segala romantisme  lampu-lampu malamnya, dan juga kota tuanya. Kota tua adalah tempat favorit saya di ibu kota. Saya gak akan pernah bosan untuk selalu berkunjung ke kota tua, tepatnya saya jatuh cinta dengan kota tua. Jatuh cinta berkali-kali. Alasannya sederhana, saya menyukai sejarah, museum, dan juga gedung-gedung tua. Dan menurut saya, untuk daerah Jabodetabek, cuma kota tualah tempat dimana saya bisa melihat sejarah masa lalu, dan membayangkan saya berada di dalamnya, di masa lalu. Tapi sayangnya, museum-museum dan bangunan arsip nasional lainnya harus bersaing dengan pusat perbelanjaan yang tersebar dimana-mana. Menyedihkan!

Ini ada beberapa foto dimana saya berkunjung ke kota tua:

Apapun kondisi Jakarta, saya selalu rindu untuk selalu datang ke sana. Jakarta menyimpan cerita masa lalu dengan seseorang yang pernah menggenggam tangan saya, saat saya dan dia menyusuri jalanan ibu kota yang  bising dan ramai. Ada damai disana. Kedamaian yang hadir lewat hiruk pikuk. 🙂

What Is Life Without A Good Book

Saya sangat menyukai buku. Kegilaan saya terhadap makhluk mungil yang bernama buku bermula sejak saya masih SD. Sewaktu kecil, saya suka membaca apa saja, entah itu majalah, surat kabar, atau buku. Apapun yang ada di hadapan saya pada saat itu, saya baca. Karena selain suka baca, saya juga punya rasa ingin tahu yang besar. Orang tua saya bukan orang tua yang membiasakan anak-anaknya membaca, atau menghadiahkan anaknya dengan buku-buku bacaan. Yah, mungkin buku tulis atau buku pelajaran saja. Jadi untuk menyalurkan minat baca yang saya miliki, saya selalu mendatangi perpustakaan sekolah. Buku-buku yang berada di perpustakaan SD pada saat itu sebagian besar adalah buku-buku cerita. Makin betahlah saya berlama-lama di perpustakaan. Saya mulai berimajinasi, menciptakan karakter sendiri, dan  mulai  menulis cerita pendek, cerita yang sangat-sangat pendek. Hahahaha 😀

Setelah saya duduk di bagku SMP, saya tinggal bersama om dan tante saya yang sama-sama berprofesi sebagai guru. Di rumah om dan tante, ada rak buku yang lumayan besar. Disitu terdapat banyak buku dengan berbagai genre dan majalah sastra. Om saya setiap bulan berlangganan majalah sastra HORISON. Saya jatuh cinta dengan sastra mulai saat itu. Selain majalah HORISON, saya juga menyukai buku puisi dan novel sastra. Favorit saya adalah novel Salah Asuhan karya Abdul Muis dan buku puisi AKU karya Chairil Anwar.

Sekian lama berkutat dengan buku-buku yang ada di rumah, akhirnya saya membeli buku pertama saya, dengan uang saya sendiri. Uang yang saya dapatkan dari hasil mengikuti lomba speech contest dan debating english competition pada saat SMA. Bahagianya luar biasa. Buku pertama yang saya beli pada saat itu adalah buku Life Strategies For Teens karya Jay McGraw. Heheh, maklum, masih remaja. LOL 😛

Menginjak bangku kuliah, saya mulai mengoleksi berbagai buku. Saya malah lebih banyak membeli buku dibandingkan beli baju dan makanan. Hahaha. Saya sedang berencana untuk membawa pulang 100 buku koleksi saya ke rumah pada saat lulus kuliah nanti. Saya ingin membuat perpustakaan mini di kamar. Tapi 100 buku itu masih target, karena saya baru punya setengahnya. Doakan saja semoga tahun ini target 100 buku itu tercapai. Amin. 😀

Berbicara mengenai buku tentu gak lepas dari toko buku dan perpustakaan. Keduanya adalah tempat favorit saya. Saya sering menghabiskan waktu di toko buku, membaca buku sampai selesai. Dan setelah selesai membaca buku tersebut, saya membelinya. Kata teman saya, itu adalah tindakan yang menghambur-hamburkan uang. Hahahaa, kata dia ngapain harus beli buku kalau buku tersebut sudah dilahap sampai habis. Mungkin teman saya ada benarnya juga. Tapi bagi saya, kalau masalah buku itu perkara lain. Memiliki sebuah buku merupakan kebanggaan dan kebahagiaan buat saya. Jadi bagi saya, gak ada yang namanya menghambur-hamburkan uang. Toh, ini ilmu juga kan.

Kalau yang pernah nonton film AADC pasti pada tau salah satu tempat di Jakarta yang bernama Kwitang. Ceritanya, saya adalah salah satu korban film AADC. Setelah nonton film itu, saya sangat terobsesi dengan Kwitang. Saya  membayangkan suatu saat saya bisa ke sana dan bertemu dengan Rangga *eh 😛 Saya menjadikan Kwitang sebagai salah satu tempat yang harus saya kunjungi.  Dan Alhamdulillah, pada Februari 2011 kemarin, saya memiliki kesempatan untuk pergi ke sana (terimakasih Banga Al). Tapi Kwitang yang ada sekarang ternyata gak seperti Kwitang yang ada di film AADC, karena ternyata gak ada Rangga di sana. Hahaha, mulai ngawur nih. Kwitang yang sekarang ini kebanyakan menjual buku-buku fotokopian (Baca: bajakan). Selain Kwitang, ada juga toko buku mungil di sekitar lingkungan kampus yang jadi tempat favorit saya. Namanya TOBE.

TOBE buat saya pribadi adalah surga  yang menjual buku-buku bekas dengan harga yang murah dibandingkan harga aslinya. Ada beberapa novel dan buku berbahasa inggris favorit saya yang saya beli di TOBE. TOBE sering saya jadikan tempat persinggahan maupun tempat pelarian. Saya sering menghabiskan waktu disela-sela menunggu kelas kuliah atau menunggu hujan reda untuk baca buku ataupun majalah di sini. Penjaga  kiosnya baik banget, karena sudah membolehkan saya baca buku selama berjam-jam di kios bukunya. Gumawo Ajhussi 😀

Selain Kwitang dan TOBE, ada juga toko buku bekas di salah satu mall di Bekasi yang jadi tempat langganan saya. Harga buku di toko itu lebih murah dibandingkan Kwitang dan TOBE. Buku-bukunya lebih beragam, versi asli, dan sebagian besar adalah buku-buku best seller. Tempatnya pun lebih luas dan nyaman karena ada bangku buat baca.

Nah, dengan adanya surga buku-buku bekas itu, saya akhirnya memiliki hobi baru, mengoleksi buku-buku tua. 🙂

Ini hanya beberapa dari koleksi buku saya:

Dan saya berharap suatu saat saya bisa mengunjungi toko-toko buku bekas di seluruh belahan dunia, tentu ditemani dengan secangkir kopi. Yah, secangkir kopi yang benar-benar enak.

Dan walaupun rencana saya untuk pergi ke Jakarta Book Fair selalu gagal, semoga aja saya gak akan gagal untuk pergi ke sini: FRANKFURT BOOK FAIR

What is life without a good book?
Keep Reading!!
– Much Love 🙂