#Life Lessons : My Sister’s Keeper

855f53c3655c2b2b3b5f5965cd0b8bee
source : pinterest

Saya yakin diantara kalian semua udah yang pernah nonton film My Sister’s Keeper. Kalau belum, please do! khususnya buat penggemar drama melow nangis bombay. Bhahaha. Jauh sebelum skripsi datang dalam kehidupan saya (duhai bahasanya), saya adalah salah satu orang yang sering mencuri kesempatan ditengah-tengah seabreknya tugas kuliah untuk nonton film. Dan dulunya saya adalah penggemar drama cengeng. Sekarang udah gak, saya lebih suka nonton film komedi biar saya tertawa. Sudah cukup drama tangis-tangisan, udah gak jaman lagi galau-galauan.

Dulu saya sering merecoki teman-teman diasrama dengan film-film sedih, ampe ada teman saya yang bajunya basah semua buat ngelap airmata dia karena nangis sesenggukan. Sumpah saya gak ampe gitunya, percayalah. Sekarang liat film aja sudah gak bernafsu. Malah saya akan menghapus semua stok film-film saya yang merupakan hasil transaksi sesama teman-teman mahasiswa lainnya selama kuliah 4 tahun. Aduh emak, bapak, maafkan anakmu ini. Pergi merantau kuliah bukannya buat belajar malah transaksi film. 😀

Film yang diadaptasi dari novel ini bercerita tentang sebuah keluarga yang memiliki permasalahan cukup kompleks. Kurang lebih begini sinopsisnya seperti yang saya kutip dari wikipedia:

Anna Fitzgerald lahir dari proses pembuahan dalam tabung. Kelahirannya hanya untuk menjadi donor bagi Kate kakaknya yang menderita leukimia. Seumur hidupnya, Anna tak punya kesempatan untuk hidup sebagai dirinya sendiri. Suatu ketika, Kate didiagnosa gagal ginjal dan karenanya Anna harus bersiap-siap merelakan satu ginjalnya untuk Kate. Di saat yang menentukan ini, Anna membuat sebuah keputusan besar dengan menyewa pengacara bernama Campbell Alexander untuk menuntut kedua orang tuanya karena telah memanfaatkan hidupnya untuk keperluan donor.

Pelajaran pertama yang saya petik dari film ini adalah seorang ibu akan melakukan apapun untuk anaknya. Mau itu dia harus mengorbankan karirnya, pernikahannya, kehidupan sosialnya, dirinya sendiri, mau botakin kepalanya (seperti yang dilakukan oleh tokoh Ibu ), atau pahit-pahitnya mengorbankan anaknya yang lain jika keadaan terpaksa. Dia akan melakukan apapun yang penting anaknya sembuh (kalau lagi sakit), yang penting anaknya bahagia (walaupun dia sendiri gak bahagia), yang penting anaknya bisa hidup dengan nyaman (walaupun dia sendiri hidup susah), liat anaknya tertawa, bahkan rela mati demi anaknya. Ibu adalah rumah, tempat paling nyaman di dunia. Sejauh apapun kita melangkah, sejauh apapun kita berpaling, kita pasti akan kembali ke rumah, ke pelukan ibu. Mau kita sakiti dia berkali-kali, mau kita membantah perkataanya, mau kitaaaa *start crying* dia akan selalu memaafkan kita. Dia gak ingin beranjak kemana-mana,  dia ingin selalu berada di rumah, agar suatu kelak ketika kita telah berkeluarga & memiliki masalah nantinya, kita bisa kembali ke rumah karena dia akan selalu berada disana untuk kita. Untuk mendengar semua masalah, menghapus air mata, dan menguatkan kita. Dia akan selalu memeluk dan merangkul kita kembali. Bahkan dia ingin agar dikehidupan nantinya, kita menjadi anaknya lagi. Right? itulah ibu. :’)

Pelajaran kedua yang saya dapatkan adalah, komunikasi keluarga itu sangat penting, apalagi disaat keluarga memiliki masalah yang besar seperti terdapat salah satu anggota keluarga yang menderita penyakit kronis (kanker dll). Komunikasi menjadi kunci utama utuhnya sebuah keluarga. Perannya untuk meminimalisir konflik di dalam keluarga (IKK banget nih ya). Di film ini, Kate yang sedang sakit leukimia menjadi pusat perhatian sehingga kedua saudara lainnya gak diperhatikan, jarang diajak komunikasi. Akhirnya si Ibu baru tau bahwa salah satu anaknya ada yang menderita penyakit dyslexia setelah pihak sekolah melapor ke rumah. Anna sebagai pendonor Kate juga jarang dimintai pendapat apakah seumur hidupnya dia mau menjadi pendonor organ untuk kelangsungan hidup kakaknya. Akhirnya, masalah-masalah kecil tersebut menjadi pemicu masalah yang lebih besar, seperti ancaman perceraian dan menuntut sang Ibu di pengadilan. hmm, complicated banget ini mah. 😉

Pelajaran ketiga adalah, social support dari keluarga adalah obat paling mujarab di dunia. Saya yakin, Kate atau siapapun yang sedang sakit bisa bertahan lama bukan karena obat, tapi karena dukungan sosial dari keluarganya. Karena pengorbanan dan cinta ibunya, karena doa ayahnya, dan karena kasih sayang tulus saudaranya. Dukungan keluarga seperti itulah yang menguatkan, yang membuat seseorang dapat hidup lama, karena jiwanya bahagia. Kebahagiaan dapat meningkatkan harapan hidup seseorang, percayalah. Karena teori mengatakan demikian. Hahahah 😀

Pelajaran terakhir adalah IKHLAS. Ketika segala usaha telah kita lakukan, segala yang dimiliki telah  kita korbankan, satu yang perlu kita lakukan adalah ikhlas. Serahkan semuanya pada Tuhan. Biarkan tangan Tuhan yang bekerja, karena itulah yang terbaik. Yah, ikhlas adalah hal yang paling sulit kita lakukan, bahkan kita perlu “ditampar” oleh orang lain untuk menyadarkan kita sehingga kita bisa mengikhlaskan sesuatu. Dalam novel/film ini, si Ibu saking sayang dan gak mau kehilangan Kate, dia melakukan apa aja. Sampai dia menutup mata dari kenyataan bahwa sudah saatnya Kate “pergi”, karena Kate sendiri udah menyerah sama penyakitnya. Dan yang mengatakan kenyataan itu adalah anaknya yang lain, Jesse. Tamparan yang keras bukan?

Advertisements

Published by

Rafida Djakiman

librocubicularists📖.ambonese.movie enthusiast

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s