Tipi Oh Tipi

Konon, di asrama tempat saya tinggal terdapat sebuah tipi mungil pemberian hamba Allah, tapi tipi tersebut isinya semut semua. Dan pada tanggal 29 Februari kemarin, mereka, para penghuni setia ruang tipi dengan penuh suka cita menyambut tipi baru berukuran 24 inch. Alhamdulillah yah, sesuatu. 🙂

Mereka? penghuni ruang tipi? trus saya tidak bersuka cita? oh jelas, saya juga. Tapi dengan kehadiran tipi 24 inch itu gak merubah kebiasaan saya yang gak nonton tipi selama di asrama. Kalaupun saya nonton, cuma sekilas aja. SEKILAS. Jadi, saya termasuk salah satu orang yang telat dengan iklan apa yang sedang hits, pelem korea apa yang lagi tayang di salah satu tipi swasta, sinetron apa yang lagi lupa ingatan, atau lagu baru apa yang lagi ngetrend sekarang. Saya cuma  tau berita-berita dari situs berita online. Aneh sih kedengarannya, masa sih mahasiswa gitu yah gak nonton tipi. Sampe ada teman saya yang terheran-heran setelah tau saya gak nonton tipi di asrama. Komentar dia “Emangnya kamu gak mau tau apah tentang masalah yang sedang melanda negara ini, atau kejadian-kejadian apa yang lagi heboh? jangan-jangan besok pulau Bali di jual kamu gak tau lagi!”

Mmmm, dia benar juga sih, tapi pilihan saya untuk gak nonton tipi gak salah juga dong yah. Alasan saya gak nonton tipi adalah karena menurut saya gak ada yang bisa saya harapkan dari tayangan-tayangan di tipi. Justru saya makin takut, pesimis, paranoid, dan dan beribu alasan lainnya. Saya gak terlalu mendapatkan banyak manfaat dari nonton tipi. Isi berita yang ada di tipi apa coba, perkosaan dimana-mana, korupsi merajalela, sinetron yang gak mendidik, kekerasan sana sini, ketidakadilan, pelanggaran HAM, tayangan hantu, inpotemen yang isinya orang cerai & berantem lagi. Dan setiap ganti channel, beritanya kurang lebih sama. Lah, trus mana berita positifnya? mana berita Indonesia meraih medali di bidang sains, karya-karya anak bangsa, kayaknya gak ditayangin di tipi tuh! padahal banyak. Banyak banget malah.

Ada sih beberapa tayangan positif, mendidik, yang juga ditayangkan di stasiun tipi, tapi bisa diitung pake jari. Padahal, UU tentang Penyiaran udah dibuat sebagus mungkin dengan tujuan untuk mencerdaskan bangsa, dan tayangan-tayangan tidak mendidik yang mengandung mistis, kekerasan, pornoaksi/pornografi dilarang ditayangkan. Nah loh, kenyataan di lapang mana? lebih sialnya, yang menonton tipi kebanyakan adalah anak-anak. Lebih parahnya, para orang tua  gak bisa ngontrol isi tayangan yang patut sesuai dengan usia anak. Malah duduk bareng anak nonton sinetron. ckckck

Dengan beberapa alasan yang udah saya jelaskan di atas, untuk itu saya memutuskan untuk gak nonton tipi. Biarlah saya baca berita-berita bermutu via online aja atau baca buku. At least, saya gak harus melihat, menyaksikan, dan mendengar berita atau tayangan yang gak mendidik di tipi. Itu bikin saya agak trauma dan pesimis. Kok gini ya negara ini, kayak gak ada yang bisa dibanggakan lagi. Tapi itu kembali lagi ke masing-masing orang.

Advertisements

Published by

Rafida Djakiman

librocubicularists📖.ambonese.movie enthusiast

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s