Cuap2 Sore

Halooww semuanya, apa kabar sore ini? semoga baik-baik saja yah. 🙂

Sore ini, tepat pukul 5:22 pm saya sedang berada di perpustakaan. Saya telah berada di sini sejak pukul dua siang. Sebenarnya sore ini saya ingin menjemput senja seperti yang saya lakukan kemarin. Tapi apa mau dikata, saya gak bisa melakukannya karena saya sedang terjebak di salah satu ruangan yang penuh dengan wajah-wajah serius. hehee

Btw, ini salah satu potret senja yang saya rekam kemarin sore

Senja di langit Bogor

Sambil menunggu 10 jurnal internasional yang sedang didownload, dan mengalihkan fokus sebentar dari skripsi, saya memutuskan untuk menulis di blog. Saya ingin berbagi cerita tentang perbincangan antara saya dengan salah satu teman baik saya. Pagi ini, teman saya menghampiri saya ke kamar setelah sekembalinya dia dari perjalanan yang dilakukannya di Bali selama satu minggu. Kami bercerita tentang banyak hal, tentang perayaan Nyepi, Jogja, Bali, Lombok, and many more. Sampai tibalah perbincangan kami mengenai skripsi & penelitian. Awalnya kami berbicara mengenai penelitian dia, setelah itu dia bertanya tentang perkembangan progres penelitian saya. Intinya saya bilang ke dia bahwa mood saya selama tingkat akhir ini up and down, dan itu berpengaruh terhadap skripsi saya. Dankalimat dia untuk merespon pernyataan saya yang gak akan saya lupa, yang membuat saya merenung lama adalah “Jangan bergantung pada mood, kamu harus lawan mood kamu. Karena kamu baru memulai. Kamu belum melewati satu tahapan, jadi kamu harus semangat. Kalau di awal saja kamu mengerjakan skripsi bergantung pada mood, bagaimana nantinya. Pasti semua yang kamu kerjakan akan tertunda-tunda.”

Apa yang dia katakan pada saya pagi tadi cukup menjadi tamparan buat saya. She is absolutely right. Akhirnya saya menyadarinya, saya gak boleh bergantung pada mood. Walaupun harus saya akui, the beginning is always the hardest. Tapi saya gak boleh menyerah begitu aja, membiarkan mood mengontrol saya. Ya Allah, terima kasih untuk pelajaran pagi ini. Dampak positif yang saya rasakan setelah ada perbincangan dengan teman saya pagi tadi adalah, saya semakin bersemangat. Saya gak ingin membuang-buang satu detik waktupun yang saya punya. Saya ingin belajar dan berusaha lebih keras, lebih, dan lebih.

Terimakasih Bloe, untuk bincang-bincang pagi ini. That’s what friend are for! 🙂

Advertisements

This Is about How You Make It

Malam ini, okey pagi maksud saya, tepat pukul 2:02am saya memulai nulis di blog ini. Seperti yang saya bilang di postingan sebelumnya, blog ini dibuat untuk memancing mood saya dalam menulis skripsi, dan sekarang saya sedang melakukannya. Percaya atau gak, saya sudah duduk selama dua jam untuk memikirkan apa yang akan saya lakukan, tepatnya apa yang harus saya tulis di skripsi saya (well, masih dalam bentuk proposal penelitian). I have no idea, damnit! dan saya berfikir bahwa, saya butuh blog ini, saya butuh menulis sesuatu yang ringan terlebih dahulu agar saya bisa memulai sesuatu yang lebih berat. Agak takut juga sih awalnya, takut lama-kelamaan saya bergantung pada motivasi eksternal & kehilangan motivasi internal saya. Ah, tidak tidak tidak. I’m pretty sure, i can control myself. 🙂

Kamis kemarin, pada saat kuliah Media Siaran saya mendapat banyak cerita menarik yang membuat saya berfikir. Hmm, ruang kuliah buat saya adalah “ruang magic” dimana apa yang berlangsung di dalam kelas bisa menyihir & menghipnotis saya dengan ilmu pengetahuan + selipan pelajaran hidup. Saya menyukai belajar di kelas, lebih tepatnya saya merindukan belajar dengan teman-teman 1 angkatan saya 😥 Kuliah adalah awal kehidupan sebenarnya, yang mematangkan proses berfikir dan pribadi seseorang. Saya sangat respek dengan orang-orang yang mau berjuang untuk kuliah. Entah itu kuliahnya di kampus negeri, swasta, di kota besar, kota kecil, yang penting kuliah dan belajar agar matang!

Pada kuliah Media Siaran, kebetulan yang mengajar adalah dosen favorit saya. Saya menyukai gaya beliau mengajar, tepatnya saya jatuh cinta pada beliau. Beliau berusia 60 tahun dan sangat menyukai gadget. Beliau adalah anak bimbingnya Profesor Sajogyo (Alm), jadi taulah kualitasnya seperti apa. Beliau adalah nini-nini gaul dengan pemikiran hebat. Pemikiran beliau itu perpaduan liberal dan demokrat —-> bukan partai demokrat, karena beliau anti partai itu sepertinya *LAWL* and do you know guys? beliau adalah salah satu fansnya Adam Lambert, itu loh juara American Idol. iyyyyyak!!! 😀

Setiap belajar dengan beliau, ada aja guyonan yang terlontar dari mulut beliau, guyonan berkelas. Satu yang saya salut dari beliau adalah rasa toleransinya yang tinggi. Ah, beliau itu sesuatu deh pokoknya. Kamis kemarin, beliau berkomentar tentang ketidaksukaannya terhadap program akselerasi yang berlaku pada departemen dimana beliau bekerja. Beliau gak mau menjadi pembimbing mahasiswa akselerasi. Karena menurut beliau, ilmu yang didapatkan oleh mahasiswa akselerasi belum penuh dan bla bla bla blaaa (panjang nih kalau diceritain). Beliau juga gak suka sama mahasiswa yang penelitiannya gak bermanfaat untuk masyarakat & gak memiliki nilai kebaruan dalam kemajuan IPTEK. *duhhh, repot juga ya jadi anak bimbing beliau *LAWL* 😛 tapi bener juga sih. Beliau juga gak suka literatur yang dipakai mahasiswa berasal dari SKRIPSI ORANG LAIN. Beliau mau mahasiswa lebih banyak mengaji jurnal internasional dan text book. Beliau maunya (banyak mau nih) mahasiswa mengaji apa yang yang mau diteliti sedalam mungkin, sehingga lebih paham dan tau apa yang akan dilakukan. Jangan hanya bisa ngutip sana sini dan pakai skripsi orang lain sebagai panduan. Beliau mau mahasiswa banyak belajar dari proses, jangan belajar instan karena akan menjadi lulusan instan juga. Jangan karena mau lulus cepat jadi apa yang dikerjakan gak maksimal. Nikmati proses, dalami, maka hasil yang didapatkan pasti yang terbaik! *tariknafas*

Setelah kelas Medis selesai, saya memikirkan berkali-kali apa yang beliau katakan. Saya evaluasi diri saya, melihat kembali apa yang telah saya lakukan. Dan akhirnya saya sadar bahwa, ternyata saya belum 100 % paham dengan penelitian yang akan saya lakukan nanti.  Saya belum terlalu banyak mengaji literatur internasional (hanya baru beberapa), dan text book yang baru saya kaji hanya dikit (karena cuma dikit yang ada di perpustakaan).  Itupun saya kaji kebanyakan untuk elaborasi kemudian masukan ke proposal. Artinya bahwa saya hanya baca jurnal dan text book seadanya saja, bagian yang saya butuhkan saja untuk dimasukan ke proposal, tapi saya gak mendalami ilmunya. Gawd!

Saya melihat lagi diri saya. Ternyata saya mengerjakan skripsi karena saya dikejar deadline Tugas Akhir (TA), karena saya dikejar-kejar dosen setiap minggu, karena saya butuh mengerjakan skripsi agar saya cepat lulus, cepat pakai toga, dan cepat kerja. Trus dibagian mana saya belajar? di bagian mana saya mengerjakan skripsi untuk memberikan sumbangsih pada ilmu pengetahuan? dibagian mana saya mengerjakan skripsi agar bermanfaat bagi masyarakat? jangan-jangan bagian “kegunaan penelitian” di skripsi saya hanya omong kosong semata, hanya kata-kata yang gak memiliki makna? ternyata saya mengerjakan skripsi gak melibatkan hati, tapi cuma karena dorongan buru-buru semata. Maafkan saya Tuhan.

Saya belajar satu hal, bahwa THIS IS NOT ABOUT WHAT YOU GOT, BUT IT’S ABOUT HOW YOU MAKE IT. Lulus adalah hasil akhir yang akan kita dapatkan, tapi bagaimana kita belajar melewati setiap proses untuk lulus itu yang jauh lebih penting. Kualitas kita dilihat dari apa yang kita kerjakan. Dan apa yang kita kerjakan bergantung pada proses. Sekarang ini saya hanya ingin menghasilkan skripsi yang terbaik, dengan proses yang matang. 🙂

cheeeeeeeerssss (^___^)v

My Sister’s Keeper #MovieReview

Saya yakin diantara kalian semua udah yang pernah baca/nonton novel/film My Sister’s Keeper. Kalau belum, please do! khususnya buat penggemar drama melow nangis bombay. Bhahaha. Jauh sebelum skripsi datang dalam kehidupan saya (duhai bahasanya), saya adalah salah satu orang yang sering mencuri kesempatan ditengah-tengah seabreknya tugas kuliah untuk nonton film. Dan dulunya saya adalah penggemar drama cengeng. Sekarang udah gak, saya lebih suka nonton film komedi biar saya ketawa ampe ngesot. Sudah cukup drama tangis-tangisan, udah gak jaman lagi galau-galauan. Saatnya bangkit dari kegalauan, cuz i think, galau terus? what’s the point? agree? J

Dulu saya sering merecoki teman-teman diasrama dengan film-film sedih, ampe ada teman saya yang bajunya basah semua buat ngelap airmata dia karena nangis sesenggukan. Sumpah saya gak ampe gitunya, percayalah.Hahaha. Sekarang liat film aja sudah gak bernafsu. Malah saya akan menghapus semua stok film-film saya yang merupakan hasil transaksi sesama teman-teman mahasiswa lainnya selama kuliah 4 tahun. Aduh mak, bapak, maafkan anakmu ini. Pergi merantau kuliah bukannya buat belajar malah transaksi film. Haha 😀

Ok, cukup pembukanya. Mari kita masuk ke inti tulisan ini. Emm, novel/film ini kurang lebih nyeritain tentang sebuah keluarga (IKK banget nih) yang memiliki permasalahan cukup kompleks. Saya aja ampe bingung mau nyeritain sinopsisnya darimana. Mungkin saya nyeritainnya gak bakal kompleks, bagian-bagian tertentu saja yang menurut saya patut untuk dijadikan pelajaran hidup. Banyak yang beranggapan bahwa novel itu bukan bacaan elit. Padahal mereka salah besar. Novel bisa memperkaya diri & imajinasi kita. Novel adalah guru kehidupan bagi saya, yang membuat saya lebih banyak berfikir, belajar dari kisah orang lain, dan membuat diri saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Hmm, ini kapan saya mulainya yak?

Kurang lebih ini sinopsisnya, biar buat kalian yang belum pernah baca atau nonton punya gambaran. Ini saya kutip dari wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/My_Sister%27s_Keeper):

Anna Fitzgerald lahir dari proses pembuahan dalam tabung. Kelahirannya hanya untuk menjadi donor bagi Kate kakaknya yang menderita leukimia. Seumur hidupnya, Anna tak punya kesempatan untuk hidup sebagai dirinya sendiri. Suatu ketika, Kate didiagnosa gagal ginjal dan karenanya Anna harus bersiap-siap merelakan satu ginjalnya untuk Kate. Di saat yang menentukan ini, Anna membuat sebuah keputusan besar dengan menyewa pengacara bernama Campbell Alexander untuk menuntut kedua orang tuanya karena telah memanfaatkan hidupnya untuk keperluan donor.

Nah, udah pada baca kan? —-> the real question is “Emang ada ya yang baca blog ini?” hahahah. Nonton/baca  film/buku ini, saya mengambil pelajaran pertama bahwa seorang ibu akan melakukan apapun untuk anaknya. Mau itu dia harus mengorbankan karirnya, pernikahannya, kehidupan sosialnya, dirinya sendiri, mau botakin kepalanya (seperti yang dilakukan oleh tokoh Ibu di novel/film ini), atau pahit-pahitnya mengorbankan anaknya yang lain jika keadaan terpaksa. Dia akan melakukan apapun yang penting anaknya sembuh (kalau lagi sakit), yang penting anaknya bahagia (walaupun dia sendiri gak bahagia), yang penting anaknya bisa hidup dengan nyaman (walaupun dia sendiri hidup susah), liat anaknya tertawa, bahkan rela mati demi anaknya. Ibu adalah rumah, tempat paling nyaman di dunia. Sejauh apapun kita melangkah, sejauh apapun kita berpaling, kita pasti akan kembali ke rumah, ke pelukan ibu. Mau kita sakiti dia berkali-kali, mau kita membantah perkataanya, mau kitaaaa *start crying* dia akan selalu memaafkan kita. Dia gak ingin beranjak kemana-mana,  dia ingin selalu berada di rumah, agar suatu kelak ketika kita telah berkeluarga & memiliki masalah nantinya, kita bisa kembali ke rumah karena dia akan selalu berada disana untuk kita. Untuk mendengar semua masalah, menghapus air mata, dan menguatkan kita. Dia akan selalu memeluk dan merangkul kita kembali. Bahkan dia ingin agar dikehidupan nantinya, kita menjadi anaknya lagi. Right? itulah ibu. :’)

Pelajaran kedua yang saya dapatkan dari film ini adalah, komunikasi keluarga itu sangat penting, apalagi disaat keluarga memiliki masalah yang besar seperti terdapat salah satu anggota keluarga yang menderita penyakit kronis (kanker dll). Komunikasi menjadi kunci utama utuhnya sebuah keluarga, meminimalisir konflik di dalam keluarga (IKK banget nih ya). Di novel/film ini, Kate yang sedang sakit leukimia menjadi pusat perhatian sehingga kedua saudara lainnya gak diperhatikan, jarang diajak komunikasi. Akhirnya si Ibu baru tau bahwa salah satu anaknya ada yang menderita penyakit dyslexia setelah pihak sekolah melapor ke rumah. Anna sebagai pendonor Kate juga jarang dimintai pendapat apakah seumur hidupnya dia mau menjadi pendonor organ untuk kelangsungan hidup kakaknya. Akhirnya, masalah-masalah kecil tersebut menjadi pemicu masalah yang lebih besar, seperti ancaman perceraian dan menuntut sang Ibu di pengadilan. hmm, complicated banget ini mah. 😉

Pelajaran ketiga adalah, social support dari keluarga adalah obat paling mujarab di dunia. Saya yakin, Kate atau siapapun yang sedang sakit bisa bertahan lama bukan karena obat, tapi karena dukungan sosial dari keluarganya. Karena pengorbanan dan cinta ibunya, karena doa ayahnya, dan karena kasih sayang tulus saudaranya. Dukungan keluarga seperti itulah yang menguatkan, yang membuat seseorang dapat hidup lama, karena jiwanya bahagia. Kebahagiaan dapat meningkatkan harapan hidup seseorang, percayalah. Karena teori mengatakan demikian. Hahahah 😀

Pelajaran terakhir adalah IKHLAS. Ketika segala usaha telah kita lakukan, segala yang dimiliki telah  kita korbankan, satu yang perlu kita lakukan adalah ikhlas. Serahkan semuanya pada Tuhan. Biarkan tangan Tuhan yang bekerja, karena itulah yang terbaik. Yah, ikhlas adalah hal yang paling sulit kita lakukan, bahkan kita perlu “ditampar” oleh orang lain untuk menyadarkan kita sehingga kita bisa mengikhlaskan sesuatu. Dalam novel/film ini, si Ibu saking sayang dan gak mau kehilangan Kate, dia melakukan apa aja. Sampai dia menutup mata dari kenyataan bahwa sudah saatnya Kate “pergi”, karena Kate sendiri udah menyerah sama penyakitnya. Dan yang mengatakan kenyataan itu adalah anaknya yang lain, Jesse. Tamparan yang keras bukan? what a life. 🙂

Believe it or not, novel ini berangkat dari kisah nyata yang kemudian difilmkan . Dan saya gak bisa membayangkan kalau saya berada pada posisi si Ibu. What should i do? mungkin saya memilih mati saja. *eh gak juga 😛

Ending dari cerita yang ada di novel dan film berbeda. Di novel, justru yang meninggal adalah Anna (pendonor, adik) karena kecelakaan mobil. Sedangkan Kate sembuh dan menjalani hidupnya. *i cried quietly for Anna. Sedangkan ending di film, Kate yang meninggal karena leukemia dan Anna menjalani hidupnya. 🙂

 

Desentralisasi Setengah Hati

Narasi desentralisasi pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) menyeruak ke berbagai daerah di Indonesia seiring menguatnya tuntutan demokratisasi dan otonomi daerah sejak menjelang dan paska reformasi politik 1998. Banyak pihak yang meyakini dan optimis bahwa desentralisasi  pengelolaan sumberdaya alam dapat meningkatkan kualitas tata kelola sumberdaya alam. Namun Larson (2003) secara tegas berpendapat bahwa desentralisasi pengelolaan sumberdaya alam membawa dampak yang beragam, baik positif maupun negatif terhadap kelestarian sumber daya alam.

Munculnya kebijakan desentralisasi dimaknai berbeda-beda oleh berbagai aktor yang berkepentingan. Masyarakat lokal memaknai kebijakan desentralisasi sebagai momen untuk mengambil kembali hak mereka atas tanah adat dan sumberdaya alam yang ada di wilayah mereka. Sedangkan bagi pemerintah daerah, desentralisasi dimaknai secara politik dan ekonomi dimana mereka menjadikan sumberdaya alam sebagai sumber pendapatan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah  (PAD).

Berkaca pada konflik SDA yang terjadi di Mesuji dan Bima beberapa waktu lalu, tentu segala optimisme akan perkembangan politik desentralisasi di Indonesia sirna sudah. Pemerintah yang seharusnya berperan sebagai pemangku kepentingan rakyat justru berpihak kepada kepentingan kapitalis. Desentralisasi dijadikan sebagai ajang untuk memperkuat posisi politik dan mengumpulkan pundi-pundi rupiah dari hasil eksploitasi sumberdaya alam yang dilakukan secara berlebihan. Pemerintah daerah gagal dalam memetakan distribusi pengelolaan sumberdaya alam secara adil dan merata. Akibatnya, masyarakat lokal menuntut hak mereka terhadap sumberdaya alam yang ada di wilayah mereka dengan berbagai cara dan kadang berujung pada konflik dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

Bila dikaji lebih dalam, akar dari segala permasalahan konflik SDA di era desentralisasi yang telah berjalan selama kurun waktu 12 tahun ini adalah penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh aktor-aktor yang memiliki kekuasaan di pemerintahan daerah. Para aktor tersebut memanfaatkan peraturan dan menggunakan kewenangan administratif di wilayah mereka untuk memberikan ijin kepada para pemilik modal untuk mengeksploitasi sumberdaya alam yang tersedia di kawasan wilayah kekuasaan mereka. Strategi yang ditempuh oleh aktor pemerintah daerah salah satunya adalah dengan membuat rejim hukum mereka sendiri melalui penerbitan peraturan daerah. Uniknya, setiap pergantian rejim penguasa akan diikuti pula  oleh pergantian rejim hukum yang dibuat oleh penguasa terdahulu. Maka tak heran jika permasalahan terkait pengelolaan sumberdaya alam menjadi satu lingkaran setan yang tak ada ujungnya.

Meski banyak implikasi negatif terjadi, desentralisasi pengelolaan sumberdaya alam juga membawa implikasi positif,  yakni pemerintah daerah  dan masyarakat lokal memiliki ruang untuk mengelola sumberdaya alam. Daerah mampu mendanai kebutuhan akan pembangunan tanpa bergantung pada pemerintah pusat, yaitu dengan memaksimalkan potensi sumberdaya alam yang ada di daerah. Walaupun demikian, pemerintah pusat maupun daerah harus tetap mengkaji dan mengevaluasi  implementasi kebijakan desentralisasi di masing-masing daerah. Agar desentralisasi tidak berjalan setengah hati dan masyarakat tidak lagi menjadi kaum marjinal yang menjadi tamu di negerinya sendiri.

 NOTE:

Ini adalah artikel populer yang saya tulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Politik Sumberdaya Alam yang diambil semester 7 lalu. FYI, Politik Sumberdaya Alam adalah mata kuliah favorit saya. Saya sangat puas dengan ilmunya, nilai mutunya 😀 dan cara dosen menyampaikan materinya. Ada beberapa kata di tulisan ini yang sengaja saya lebih-lebihkan (alay) agar kesannya lebih dramatis. Tuewwwwww 😛

Saya masih belajar menulis, jadi kalau ada tulisandi  blog ini yang gak sesuai dengan EYD atau gak jelas mana SPOKnya, mohon masukan, kritik, dan saran dari siapapun yang membaca blog ini (semoga aja ada).

*saatnya kembali ke dunia nyata, menulis skripsi. 🙂

Tipi Oh Tipi

Konon, di asrama tempat saya tinggal terdapat sebuah tipi mungil pemberian hamba Allah, tapi tipi tersebut isinya semut semua. Dan pada tanggal 29 Februari kemarin, mereka, para penghuni setia ruang tipi dengan penuh suka cita menyambut tipi baru berukuran 24 inch. Alhamdulillah yah, sesuatu. 🙂

Mereka? penghuni ruang tipi? trus saya tidak bersuka cita? oh jelas, saya juga. Tapi dengan kehadiran tipi 24 inch itu gak merubah kebiasaan saya yang gak nonton tipi selama di asrama. Kalaupun saya nonton, cuma sekilas aja. SEKILAS. Jadi, saya termasuk salah satu orang yang telat dengan iklan apa yang sedang hits, pelem korea apa yang lagi tayang di salah satu tipi swasta, sinetron apa yang lagi lupa ingatan, atau lagu baru apa yang lagi ngetrend sekarang. Saya cuma  tau berita-berita dari situs berita online. Aneh sih kedengarannya, masa sih mahasiswa gitu yah gak nonton tipi. Sampe ada teman saya yang terheran-heran setelah tau saya gak nonton tipi di asrama. Komentar dia “Emangnya kamu gak mau tau apah tentang masalah yang sedang melanda negara ini, atau kejadian-kejadian apa yang lagi heboh? jangan-jangan besok pulau Bali di jual kamu gak tau lagi!”

Mmmm, dia benar juga sih, tapi pilihan saya untuk gak nonton tipi gak salah juga dong yah. Ok, let me break it down guys. Alasan saya gak nonton tipi adalah karena menurut saya gak ada yang bisa saya harapkan dari tayangan-tayangan di tipi. Justru saya makin takut, pesimis, paranoid, dan dan dan beribu alasan lainnya. Saya gak terlalu mendapatkan banyak manfaat dari nonton tipi. Isi berita yang ada di tipi apa coba, perkosaan dimana-mana, korupsi merajalela, sinetron yang gak mendidik, kekerasan sana sini, ketidakadilan, pelanggaran HAM, tayangan hantu geje, inpotemen yang isinya orang ceraiiiiiiiii & berantem lagi. Dan setiap ganti channel, beritanya kurang lebih sama. Lah, trus mana berita positifnya? mana berita Indonesia meraih medali di bidang sains, karya-karya anak bangsa, kayaknya gak ditayangin di tipi tuh! padahal banyak. Banyak banget malah.

Ada sih beberapa tayangan positif, mendidik, yang juga ditayangkan di stasiun tipi, tapi bisa diitung pake jari. Padahal, UU tentang penyiaran udah dibuat sebagus mungkin dengan tujuan untuk mencerdaskan bangsa, dan tayangan-tayangan tidak mendidik yang mengandung mistis, pornoaksi/grafi, de el el el, dilarang ditayangkan. Nah loh, kenyataan di lapang mana? lebih sialnya, yang menonton tipi kebanyakan adalah anak-anak. Lebih parahnya, orangtuanya yang hmm yaa hmm bego, gak bisa ngontrol isi tayangan yang patut sesuai usia anak. Malah duduk bareng anak nonton sinetron. ckckck 😉

Berbicara mengenai peran orang tua untuk menyeleksi tayangan yang sesuai dan pantas ditonton oleh anak, saya punya pengalaman yang wow. Panjang nih ya jadinya tulisan saya, gak apalah. Pasti loe loe semua yang gaul udah tau dong pelem sekuel pampir jatuh cinta sama manusia? yupz, pelem Twilight dan anak-anaknya. Tahun kemarin saya ditraktir nonton pelem Breaking Dawn sama teman saya. Nah, di bioskop ini, ada orang tua dengan dua anaknya yang masih berusia 6 tahun gitu lah yang juga ikut nonton. Kalau yang udah nonton Breaking Dawn pasti udah tau dong adegan honeymoonnya Edward sama Bella yang durasinya lumayan *hmmm lamaaaaaaaaa. 😉

Bayangin ajah tuh, tayangan tersebut pantas gak ditonton sama anak yang masih di bawah umur? ada orangtuanya pulak! blah! ckckckck!

Ok, balik lagi ke tipi, saya gak mau membahas tentang masalah pengasuhan, lama jadinya. Nah, dengan beberapa alasan yang udah saya jelaskan di atas, untuk itu, saya memutuskan untuk gak nonton tipi. Biarlah saya baca berita-berita bermutu via online aja atau baca buku. At least, saya gak harus melihat, menyaksikan, dan mendengar berita atau tayangan yang gak mendidik di tipi. Itu bikin saya agak trauma dan pesimis. Kok gini ya negara ini, kayak gak ada yang bisa dibanggakan lagi. Tapi itu kembali lagi ke masing-masing orang. Saya sih, gak kuat yah. hahahah 😀

FLEA MARKET = Heaven Market

Mungkin sebagian besar orang masih asing atau bahkan belum pernah  dengar istilah FleaMarket. Tapi untuk orang-orang yang menyukai barang-barang dengan harga murah dan berumur paruh bayah pasti udah gak asing lagi sama istilah yang satu ini. Flea Market adalah pasar yang menjual barang-barang second yang antic, vintage, dan kadang bermerek entah itu pakaian, tas, sepatu, atau aksesoris lainnya. Saya sendiri merupakan salah satu manusia yang sangat sangat menyukai berbelanja di Flea Market. Alasannya karena saya addicted sama barang-barang yang berusia lebih tua daripada usia saya (vintage), dan saya akan sangat menyesal kalo belanja dengan harga yang mahal. Makin murah satu barang yang saya beli,saya makin bangga! tapi bukan berarti saya anti sama barang-barang mahal. Buat saya pribadi, berbelanja di Flea Market adalah hal yang menyenangkan. Saya bisa liat model-model fashion jaman dulu, jaman dimana saya masih bocah atau bahkan belom lahir. Flea Market adalah surga buat orang-orang yang menyukai fashion tapi memiliki isi kantong pas-pasan. Hahahahha 😀

IKK-FEMA-IPB

Pasti banyak yang bertanya “IKK, departemen apa tuh? emang ada ya di IPB?” hehehe. Banyak yang bingung kenapa bisa di Institut Pertanian Bogor  ada Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen. “Apa hubungannya pertanian dengan keluarga?”.  Pertanyaan pertama saya maklumi. Tapi sampai ada yang bertanya apa korelasinya pertanian dengan keluarga harus saya sarankan untuk bersekolah lagi. Jelas ada! petani adalah bagian dari keluarga. Simpel bukan? (smile)

Oke mari kita balik ke judul. IKK atau Ilmu Keluarga dan Konsumen merupakan salah satu departemen yang ada di Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) atau biasa diplesetin sama mahasiswa non FEMA sebagai fakulatas emak-emak. *sigh* padahal ni ya, mata kuliah minor atau SC FEMA yang paling laku di kalangan mahasiswa non FEMA. huuuuuuuu tape deh! 😛

Selain IKK, ada juga Departemen Gizi Masyarakat dan Dep. Sains Komunikasi & Pengembangan Masyarakat. Tapi IKK adalah departemen yang unik dibandingkan departemen dua lainnya. Because, mostly populasinya adalah perempuan a.k.a wanita-wanita tangguh. Subhanallah sekali ya. hehe. Kebanyakan yang masuk di IKK menurut survey pertama kali adalah karena dipilih oleh IPB, termasuk saya. Dan saya yakin bahwa para pria yang masuk IKK tidak ada yang memilih IKK sebagai pilihan mayor. Sungguh miris awalnya melihat mereka menjadi kaum minoritas di kelas. Sampai-sampai ada teman saya yang mati-matian mau pindah ke Dep. Manajemen, tapi gak dijinin sama pihak kampus. Kami yang tidak memilih IKK sebagai pilihan mayor menamai diri kami sebagai anak-anak yang tersesat di jalan yang benar. Banyak cerita-cerita unik selama kuliah dan menjadi mahasiswa IKK angkatan 45. Tapi satu yang saya ingin katakan sejak awal adalah SAYA BERSYUKUR MENJADI MAHASISWA IKK. Dan saya berterima kasih pada Tuhan untuk itu. 🙂

Di IKK, kami belajar banyak hal. Belajar tentang kesejahteraan keluarga, ketahanan keluarga, psikologi anak, parenting, ilmu konsumen, pendidikan holistik, karakter, dan masih banyak lagi. Dosen-dosen yang ada di IKK sebagian besar dosen-dosen hebat lulusan luar negri. Saya bersyukur karena ilmu yang saya dapatkan tidak hanya untuk diaplikasikan ke masyarakat saja, tapi buat kehidupan pribadi saya juga. Beli satu gratis satulah. Banyak yang underestimate sama Dep. IKK, tapi itu gak membuat kami sebagai mahasiswanya jadi minder atau apa, justru kami makin bangga. Bangga karena kami lebih berkarakter (menurut survey pribadi) dibandingkan mahasiswa departemen lainnya. Bahkan para pria dari departemen lain melabuhkan hatinya (cieeee) pada para wanita IKK yang dijuluki dengan calon istri bersertifikat *agak geli ngetiknya* bhahahhah 😀

Mahasiswa IKK juga banyak menunjukan prestasinya, mulai dari tingkat fakultas, IPB, nasional, sampai internasional. Justru sekarang saya merasa bahwa ilmu yang ada di Dep. IKK lah yang paling dibutuhkan oleh bangsa ini, melihat semakin merosotnya nilai-nilai moral akibat salah pengasuhan, karakter yang bobrok, butuhnya penerapan pendidikan berbasis karakter & holistik, dan masih banyak lagi. Ilmu kami dibutuhkan untuk menanamkan karakter pada anak sejak dini untuk tidak menjadi koruptor. Kami memang beda, tapi kami mendunia. Seperti halnya slogan fakultas kami, MEMBUMI DAN MENDUNIA. 🙂

Building human capital, making for the better life. IKK go IKK!

* Saya sendiri memiliki ambisi besar dalam dunia pendidikan. Saya ingin mengembangkan pendidikan karakter berbasis holistik & budaya di Maluku. Amin 🙂