Posted in Uncategorized

#Random Thought

Malam ini, okey pagi maksud saya, tepat pukul 2:02am saya memulai nulis di blog ini. Seperti yang saya bilang di postingan sebelumnya, blog ini dibuat untuk memancing mood saya dalam menulis skripsi, dan sekarang saya sedang melakukannya. Percaya atau gak, saya sudah duduk selama dua jam untuk memikirkan apa yang akan saya lakukan, tepatnya apa yang harus saya tulis di skripsi saya (well, masih dalam bentuk proposal penelitian). I have no idea! dan saya berfikir bahwa, saya butuh blog ini, saya butuh menulis sesuatu yang ringan terlebih dahulu agar saya bisa memulai sesuatu yang lebih berat. Agak takut juga sih awalnya, takut lama-kelamaan saya bergantung pada motivasi eksternal & kehilangan motivasi internal saya.

Kamis kemarin, pada saat kuliah Media Siaran saya mendapat banyak cerita menarik yang membuat saya berfikir. Kebetulan yang mengajar adalah dosen favorit saya. Saya menyukai gaya beliau mengajar, tepatnya saya jatuh cinta pada beliau. Beliau berusia 60 tahun dan sangat menyukai gadget. Beliau adalah anak bimbingnya Profesor Sajogyo (Alm), jadi taulah kualitasnya seperti apa. Beliau adalah nenek-nenek gaul dengan pemikiran hebat. Pemikiran beliau itu perpaduan liberal dan demokrat (bukan partai demokrat, karena beliau anti partai itu sepertinya) *LOL* dan tau gak guys? beliau adalah salah satu fansnya Adam Lambert, itu loh juara American Idol. iyyyyyak!!! 😀

Setiap belajar dengan beliau, ada aja guyonan yang terlontar dari mulut beliau, guyonan berkelas. Satu yang saya salut dari beliau adalah rasa toleransinya yang tinggi. Ah, beliau itu sesuatu deh pokoknya. Kamis kemarin, beliau berkomentar tentang ketidaksukaannya terhadap program akselerasi yang berlaku pada departemen dimana beliau bekerja. Beliau gak mau menjadi pembimbing mahasiswa akselerasi. Karena menurut beliau, ilmu yang didapatkan oleh mahasiswa akselerasi belum penuh dan bla bla bla blaaa (panjang nih kalau diceritain). Beliau juga gak suka sama mahasiswa yang penelitiannya gak bermanfaat untuk masyarakat & gak memiliki nilai kebaruan dalam kemajuan IPTEK. *duhhh, repot juga ya jadi anak bimbing beliau *LOL* 😛 tapi bener juga sih. Beliau juga gak suka literatur yang dipakai mahasiswa berasal dari SKRIPSI ORANG LAIN. Beliau mau mahasiswa lebih banyak mengaji jurnal internasional dan text book. Beliau maunya (banyak mau nih) mahasiswa mengaji apa yang yang mau diteliti sedalam mungkin, sehingga lebih paham dan tau apa yang akan dilakukan. Jangan hanya bisa ngutip sana sini dan pakai skripsi orang lain sebagai panduan. Beliau mau mahasiswa banyak belajar dari proses, jangan belajar instan karena akan menjadi lulusan instan juga. Jangan karena mau lulus cepat jadi apa yang dikerjakan gak maksimal. Nikmati proses, dalami, maka hasil yang didapatkan pasti yang terbaik.

Setelah kelas Medis selesai, saya memikirkan berkali-kali apa yang beliau katakan. Saya evaluasi diri saya, melihat kembali apa yang telah saya lakukan. Dan akhirnya saya sadar bahwa, ternyata saya belum 100 % paham dengan penelitian yang akan saya lakukan nanti.  Saya belum terlalu banyak mengaji literatur internasional (hanya baru beberapa), dan text book yang baru saya kaji hanya dikit (karena cuma dikit yang ada di perpustakaan). Itupun saya kaji kebanyakan untuk elaborasi kemudian masukan ke proposal. Artinya bahwa saya hanya baca jurnal dan text book seadanya saja, bagian yang saya butuhkan saja untuk dimasukan ke proposal, tapi saya gak mendalami ilmunya.

Saya melihat lagi diri saya. Ternyata saya mengerjakan skripsi karena saya dikejar deadline Tugas Akhir (TA), karena saya dikejar-kejar dosen setiap minggu, karena saya butuh mengerjakan skripsi agar saya cepat lulus, cepat pakai toga, dan cepat kerja. Trus dibagian mana saya belajar? di bagian mana saya mengerjakan skripsi untuk memberikan sumbangsih pada ilmu pengetahuan? dibagian mana saya mengerjakan skripsi agar bermanfaat bagi masyarakat? jangan-jangan bagian “kegunaan penelitian” di skripsi saya hanya omong kosong semata, hanya kata-kata yang gak memiliki makna? ternyata saya mengerjakan skripsi gak melibatkan hati, tapi cuma karena dorongan buru-buru semata. Maafkan saya Tuhan.

Lulus adalah hasil akhir yang akan kita dapatkan, tapi bagaimana kita belajar melewati setiap proses untuk lulus itu yang jauh lebih penting. Kualitas kita dilihat dari apa yang kita kerjakan. Dan apa yang kita kerjakan bergantung pada proses. Sekarang ini saya hanya ingin menghasilkan skripsi yang terbaik, dengan proses yang matang. 🙂

Advertisements
Posted in Uncategorized

#Life Lessons : My Sister’s Keeper

855f53c3655c2b2b3b5f5965cd0b8bee
source : pinterest

Saya yakin diantara kalian semua udah yang pernah nonton film My Sister’s Keeper. Kalau belum, please do! khususnya buat penggemar drama melow nangis bombay. Bhahaha. Jauh sebelum skripsi datang dalam kehidupan saya (duhai bahasanya), saya adalah salah satu orang yang sering mencuri kesempatan ditengah-tengah seabreknya tugas kuliah untuk nonton film. Dan dulunya saya adalah penggemar drama cengeng. Sekarang udah gak, saya lebih suka nonton film komedi biar saya tertawa. Sudah cukup drama tangis-tangisan, udah gak jaman lagi galau-galauan.

Dulu saya sering merecoki teman-teman diasrama dengan film-film sedih, ampe ada teman saya yang bajunya basah semua buat ngelap airmata dia karena nangis sesenggukan. Sumpah saya gak ampe gitunya, percayalah. Sekarang liat film aja sudah gak bernafsu. Malah saya akan menghapus semua stok film-film saya yang merupakan hasil transaksi sesama teman-teman mahasiswa lainnya selama kuliah 4 tahun. Aduh emak, bapak, maafkan anakmu ini. Pergi merantau kuliah bukannya buat belajar malah transaksi film. 😀

Film yang diadaptasi dari novel ini bercerita tentang sebuah keluarga yang memiliki permasalahan cukup kompleks. Kurang lebih begini sinopsisnya seperti yang saya kutip dari wikipedia:

Anna Fitzgerald lahir dari proses pembuahan dalam tabung. Kelahirannya hanya untuk menjadi donor bagi Kate kakaknya yang menderita leukimia. Seumur hidupnya, Anna tak punya kesempatan untuk hidup sebagai dirinya sendiri. Suatu ketika, Kate didiagnosa gagal ginjal dan karenanya Anna harus bersiap-siap merelakan satu ginjalnya untuk Kate. Di saat yang menentukan ini, Anna membuat sebuah keputusan besar dengan menyewa pengacara bernama Campbell Alexander untuk menuntut kedua orang tuanya karena telah memanfaatkan hidupnya untuk keperluan donor.

Pelajaran pertama yang saya petik dari film ini adalah seorang ibu akan melakukan apapun untuk anaknya. Mau itu dia harus mengorbankan karirnya, pernikahannya, kehidupan sosialnya, dirinya sendiri, mau botakin kepalanya (seperti yang dilakukan oleh tokoh Ibu ), atau pahit-pahitnya mengorbankan anaknya yang lain jika keadaan terpaksa. Dia akan melakukan apapun yang penting anaknya sembuh (kalau lagi sakit), yang penting anaknya bahagia (walaupun dia sendiri gak bahagia), yang penting anaknya bisa hidup dengan nyaman (walaupun dia sendiri hidup susah), liat anaknya tertawa, bahkan rela mati demi anaknya. Ibu adalah rumah, tempat paling nyaman di dunia. Sejauh apapun kita melangkah, sejauh apapun kita berpaling, kita pasti akan kembali ke rumah, ke pelukan ibu. Mau kita sakiti dia berkali-kali, mau kita membantah perkataanya, mau kitaaaa *start crying* dia akan selalu memaafkan kita. Dia gak ingin beranjak kemana-mana,  dia ingin selalu berada di rumah, agar suatu kelak ketika kita telah berkeluarga & memiliki masalah nantinya, kita bisa kembali ke rumah karena dia akan selalu berada disana untuk kita. Untuk mendengar semua masalah, menghapus air mata, dan menguatkan kita. Dia akan selalu memeluk dan merangkul kita kembali. Bahkan dia ingin agar dikehidupan nantinya, kita menjadi anaknya lagi. Right? itulah ibu. :’)

Pelajaran kedua yang saya dapatkan adalah, komunikasi keluarga itu sangat penting, apalagi disaat keluarga memiliki masalah yang besar seperti terdapat salah satu anggota keluarga yang menderita penyakit kronis (kanker dll). Komunikasi menjadi kunci utama utuhnya sebuah keluarga. Perannya untuk meminimalisir konflik di dalam keluarga (IKK banget nih ya). Di film ini, Kate yang sedang sakit leukimia menjadi pusat perhatian sehingga kedua saudara lainnya gak diperhatikan, jarang diajak komunikasi. Akhirnya si Ibu baru tau bahwa salah satu anaknya ada yang menderita penyakit dyslexia setelah pihak sekolah melapor ke rumah. Anna sebagai pendonor Kate juga jarang dimintai pendapat apakah seumur hidupnya dia mau menjadi pendonor organ untuk kelangsungan hidup kakaknya. Akhirnya, masalah-masalah kecil tersebut menjadi pemicu masalah yang lebih besar, seperti ancaman perceraian dan menuntut sang Ibu di pengadilan. hmm, complicated banget ini mah. 😉

Pelajaran ketiga adalah, social support dari keluarga adalah obat paling mujarab di dunia. Saya yakin, Kate atau siapapun yang sedang sakit bisa bertahan lama bukan karena obat, tapi karena dukungan sosial dari keluarganya. Karena pengorbanan dan cinta ibunya, karena doa ayahnya, dan karena kasih sayang tulus saudaranya. Dukungan keluarga seperti itulah yang menguatkan, yang membuat seseorang dapat hidup lama, karena jiwanya bahagia. Kebahagiaan dapat meningkatkan harapan hidup seseorang, percayalah. Karena teori mengatakan demikian. Hahahah 😀

Pelajaran terakhir adalah IKHLAS. Ketika segala usaha telah kita lakukan, segala yang dimiliki telah  kita korbankan, satu yang perlu kita lakukan adalah ikhlas. Serahkan semuanya pada Tuhan. Biarkan tangan Tuhan yang bekerja, karena itulah yang terbaik. Yah, ikhlas adalah hal yang paling sulit kita lakukan, bahkan kita perlu “ditampar” oleh orang lain untuk menyadarkan kita sehingga kita bisa mengikhlaskan sesuatu. Dalam novel/film ini, si Ibu saking sayang dan gak mau kehilangan Kate, dia melakukan apa aja. Sampai dia menutup mata dari kenyataan bahwa sudah saatnya Kate “pergi”, karena Kate sendiri udah menyerah sama penyakitnya. Dan yang mengatakan kenyataan itu adalah anaknya yang lain, Jesse. Tamparan yang keras bukan?

Posted in Thoughts

Tipi Oh Tipi

Konon, di asrama tempat saya tinggal terdapat sebuah tipi mungil pemberian hamba Allah, tapi tipi tersebut isinya semut semua. Dan pada tanggal 29 Februari kemarin, mereka, para penghuni setia ruang tipi dengan penuh suka cita menyambut tipi baru berukuran 24 inch. Alhamdulillah yah, sesuatu. 🙂

Mereka? penghuni ruang tipi? trus saya tidak bersuka cita? oh jelas, saya juga. Tapi dengan kehadiran tipi 24 inch itu gak merubah kebiasaan saya yang gak nonton tipi selama di asrama. Kalaupun saya nonton, cuma sekilas aja. SEKILAS. Jadi, saya termasuk salah satu orang yang telat dengan iklan apa yang sedang hits, pelem korea apa yang lagi tayang di salah satu tipi swasta, sinetron apa yang lagi lupa ingatan, atau lagu baru apa yang lagi ngetrend sekarang. Saya cuma  tau berita-berita dari situs berita online. Aneh sih kedengarannya, masa sih mahasiswa gitu yah gak nonton tipi. Sampe ada teman saya yang terheran-heran setelah tau saya gak nonton tipi di asrama. Komentar dia “Emangnya kamu gak mau tau apah tentang masalah yang sedang melanda negara ini, atau kejadian-kejadian apa yang lagi heboh? jangan-jangan besok pulau Bali di jual kamu gak tau lagi!”

Mmmm, dia benar juga sih, tapi pilihan saya untuk gak nonton tipi gak salah juga dong yah. Alasan saya gak nonton tipi adalah karena menurut saya gak ada yang bisa saya harapkan dari tayangan-tayangan di tipi. Justru saya makin takut, pesimis, paranoid, dan dan beribu alasan lainnya. Saya gak terlalu mendapatkan banyak manfaat dari nonton tipi. Isi berita yang ada di tipi apa coba, perkosaan dimana-mana, korupsi merajalela, sinetron yang gak mendidik, kekerasan sana sini, ketidakadilan, pelanggaran HAM, tayangan hantu, inpotemen yang isinya orang cerai & berantem lagi. Dan setiap ganti channel, beritanya kurang lebih sama. Lah, trus mana berita positifnya? mana berita Indonesia meraih medali di bidang sains, karya-karya anak bangsa, kayaknya gak ditayangin di tipi tuh! padahal banyak. Banyak banget malah.

Ada sih beberapa tayangan positif, mendidik, yang juga ditayangkan di stasiun tipi, tapi bisa diitung pake jari. Padahal, UU tentang Penyiaran udah dibuat sebagus mungkin dengan tujuan untuk mencerdaskan bangsa, dan tayangan-tayangan tidak mendidik yang mengandung mistis, kekerasan, pornoaksi/pornografi dilarang ditayangkan. Nah loh, kenyataan di lapang mana? lebih sialnya, yang menonton tipi kebanyakan adalah anak-anak. Lebih parahnya, para orang tua  gak bisa ngontrol isi tayangan yang patut sesuai dengan usia anak. Malah duduk bareng anak nonton sinetron. ckckck

Dengan beberapa alasan yang udah saya jelaskan di atas, untuk itu saya memutuskan untuk gak nonton tipi. Biarlah saya baca berita-berita bermutu via online aja atau baca buku. At least, saya gak harus melihat, menyaksikan, dan mendengar berita atau tayangan yang gak mendidik di tipi. Itu bikin saya agak trauma dan pesimis. Kok gini ya negara ini, kayak gak ada yang bisa dibanggakan lagi. Tapi itu kembali lagi ke masing-masing orang.

Posted in Thoughts

IKK-FEMA-IPB

Pasti banyak yang bertanya “IKK, departemen apa tuh? emang ada ya di IPB?” hehehe. Banyak yang bingung kenapa bisa di Institut Pertanian Bogor  ada Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen. “Apa hubungannya pertanian dengan keluarga?”.  Pertanyaan pertama saya maklumi. Tapi sampai ada yang bertanya apa korelasinya pertanian dengan keluarga harus saya sarankan untuk bersekolah lagi. Jelas ada! petani adalah bagian dari keluarga. Sederhana bukan?
IKK atau Ilmu Keluarga dan Konsumen merupakan salah satu departemen yang ada di Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) atau biasa diplesetin sama mahasiswa non FEMA sebagai fakulatas emak-emak. *sigh* padahal ni ya, mata kuliah minor atau SC FEMA yang paling laku di kalangan mahasiswa non FEMA. Selain IKK, ada juga Departemen Gizi Masyarakat dan Dep. Sains Komunikasi & Pengembangan Masyarakat. Tapi IKK adalah departemen yang unik dibandingkan departemen dua lainnya. Because, mostly populasinya adalah perempuan a.k.a wanita-wanita tangguh. Subhanallah sekali ya. hehe. Kebanyakan yang masuk di IKK menurut survey pertama kali adalah karena dipilih oleh IPB, termasuk saya. Dan saya yakin bahwa para pria yang masuk IKK tidak ada yang memilih IKK sebagai pilihan mayor. Sungguh miris awalnya melihat mereka menjadi kaum minoritas di kelas. Sampai-sampai ada teman saya yang mati-matian mau pindah ke Dep. Manajemen, tapi gak dijinin sama pihak kampus. Kami yang tidak memilih IKK sebagai pilihan mayor menamai diri kami sebagai anak-anak yang tersesat di jalan yang benar. Banyak cerita-cerita unik selama kuliah dan menjadi mahasiswa IKK angkatan 45. Tapi satu yang saya ingin katakan sejak awal adalah SAYA BERSYUKUR MENJADI MAHASISWA IKK. Dan saya berterima kasih pada Tuhan untuk itu. 🙂

Di IKK, kami belajar banyak hal. Belajar tentang kesejahteraan keluarga, ketahanan keluarga, psikologi anak, parenting, ilmu konsumen, pendidikan holistik, karakter, dan masih banyak lagi. Dosen-dosen yang ada di IKK sebagian besar dosen-dosen hebat lulusan luar negri. Saya bersyukur karena ilmu yang saya dapatkan tidak hanya untuk diaplikasikan ke masyarakat saja, tapi buat kehidupan pribadi saya juga. Beli satu gratis satulah. Banyak yang underestimate sama Dep. IKK, tapi itu gak membuat kami sebagai mahasiswanya jadi minder atau apa, justru kami makin bangga. Bangga karena kami lebih berkarakter (menurut survey pribadi) dibandingkan mahasiswa departemen lainnya. Bahkan para pria dari departemen lain melabuhkan hatinya (cieeee) pada para wanita IKK yang dijuluki dengan calon istri bersertifikat *agak geli ngetiknya* bhahahhah 😀

Mahasiswa IKK juga banyak menunjukan prestasinya, mulai dari tingkat fakultas, IPB, nasional, sampai internasional. Justru sekarang saya merasa bahwa ilmu yang ada di Dep. IKK lah yang paling dibutuhkan oleh bangsa ini, melihat semakin merosotnya nilai-nilai moral akibat salah pengasuhan, karakter yang bobrok, butuhnya penerapan pendidikan berbasis karakter & holistik, dan masih banyak lagi. Ilmu kami dibutuhkan untuk menanamkan karakter pada anak sejak dini untuk tidak menjadi koruptor. Kami memang beda, tapi kami mendunia. Seperti halnya slogan fakultas kami, MEMBUMI DAN MENDUNIA. 🙂

Building human capital, making for the better life. IKK go IKK!

* Saya sendiri memiliki ambisi besar dalam dunia pendidikan. Saya ingin mengembangkan pendidikan karakter berbasis  holistik & budaya di Maluku. Amin 🙂
Posted in Thoughts

Buanglah Sampah Pada Tempatnya = Easy?

Kita semua pasti udah gak asing lagi sama slogan “buanglah sampah pada tempatnya”. Dan semua dari kita pasti tau bahwa lebih mudah bagi kita manusia untuk berlisan daripada bertindak. Yupz! saya 100 persen yakin itu.

Kali ini saya gak akan membahas banyak tentang sampah atau pengaruh sampah terhadap lingkungan, atau bahkan berbicara tentang global warming. Karena menurut saya kita semua udah paham betul tentang semua itu. Tapi saya hanya ingin bertanya bahwa berapa banyak dari kita yang buang sampah pada tempatnya? berapa banyak dari kita yang sadar bahwa sampah harus dibuang pada tempatnya? Gak banyak! bahkan kita butuh bantuan orang lain untuk menyadarkan kita tentang perilaku membuang sampah pada tempatnya.

Beberapa hari yang lalu, saya cukup dapat pelajaran yang berharga mengenai perilaku membuang sampah. Singkat cerita, saya datang menumpang menggunakan wifi yang ada di fakultas C, yang kebetulan sangat dekat dengan asrama yang saya tinggal. Beberapa menit berjalan, tiba-tiba datang seorang ibu (staf fakultas C) yang mendamprat saya habis-habisan. Beliau menuduh saya yang mengotori tempat yang saya duduki dengan sampah-sampah makanan. Helo buk, saya hanya datang membawa laptop + 1 botol air mineral yang masih penuh, dan saya belum sampai lima menit berada di tempat ini. Bagaimana bisa saya mengotori tempat yang saya duduki dengan sampah-sampah makanan yang udah lama? Setelah mendamprat saya, beliau membentak saya dan nyuruh saya buat mungutin semua sampah yang ada disitu termasuk sampah kayu (ini fakultas atau apa?). Walaupun saya emosi karena dituduh dan dibentak, saya memilih bungkam dan buang semua sampah yang ada disitu.

Intinya, pelajaran yang saya dapatkan adalah: Pertama, kita harus saling mengingatkan untuk membuang sampah pada tempatnya, dengan cara yang baik dan benar (kalo kayak si ibu namanya ngajak berantem :p). Kedua, walaupun sampah yang ada bukan milik kita, kita tetap punya kewajiban untuk membuangnya. Ketiga, kita harus buang sampah pada tempatnya, hehhe. Maksud saya adalah, kalo kita buang sampah sembarangan, kita gak hanya merugikan lingkungan tapi juga orang-orang yang ada di sekitar kita. Saya walaupun kesal tapi mengerti betul apa yang dirasakan oleh ibu tersebut. Dia merasa rugi dengan sampah-sampah yang berserakan, padahal disisi lain dia sendiri buang sampah pada tempatnya.

Saya sendiri, walaupun belum sepenuhnya menerapkan buang sampah pada tempatnya, tapi saya belajar. Saya rela tas saya dijadikan tong sampah untuk menampung semua sampah yang saya punya kemudian akan membuangnya kalo udah ketemu tempat sampah. Dan hari itu saya belajar bahwa saya juga punya kewajiban untuk membuang sampah yang saya temukan dimana saja, walaupun itu bukan sampah saya. Terima kasih ibunya. ;D