Dear You

Terima kasih, sudah mau datang kembali sebagai teman.

Saya bahagia, itu saja

Hai kamu, apa kabar? semoga sehat terus yah, be happy πŸ™‚

Saya tau, semua ini agak membingungkan & aneh buat kita berdua. Setelah sekian bulan, sekian minggu, sekian hari, sekian jam, sekian menit, dan sekian detik, hubungan kita kembali mencair. As friend. πŸ™‚

Satu hal yang harus kamu tau bahwa saya baik-baik saja, dan semoga ini cukup bikin kamu lega dan gak merasa bersalah lagi. Saya gak ingin menempatkan kamu pada posisi itu, sungguh! instead i want to thank you for giving me the worst day of a few months ago. Saya belajar banyak. Banyak banget malah, dan saya yakin pelajaran ini cukup buat bekal saya di masa depan nanti, untuk hubungan yang lebih serius lagi, entah itu dengan siapa, i don’t know. Untuk itu, terima kasih. Terima kasih banyak. Saya hanya meyakini satu hal bahwa gak ada yang namanya sia-sia dari sebuah pertemuan maupun perpisahan. Saya bersyukur pernah ada di satu masa bersama kamu, mengenal kamu. Saya bersyukur bahwa kita pernah berada di detik yang sama. πŸ™‚

Saya disini gak mau bicara tentang masa lalu, apa yang udah terjadi sudah saya ikhlaskan.Β  Message yang kamu kirim malam lalu buat saya speechless! saya nangis, nangis sesenggukan kayak malam dimana kamu mengakhiri semuanya. Saya juga bingung dengan apa yang saya lakukan malam itu, saya gak tau apakah saya nangis karena kamu muncul lagi menyapa saya, atau karena saya terlalu merindukan kamu, atau karena saya udah gak terlalu merasakan apa-apa lagi. Tapi jujur aja, message yang kamu kirim adalah sesuatu yang paling saya tunggu-tunggu selama tujuh bulan ini. Message yangΒ  kamu kirim adalah antiklimaks dari tujuh bulan perjalanan saya untuk move on.

Selama ini, saya selalu berusaha untuk move on. Tapi semakin saya berusaha untuk move on semakin kamu gak bisa hilang dari benak saya. Saya pasrah, menyerah, saya biarkan semua mengalir apa adanya. Tapi itu gak berhasil. Sama sekali gak berhasil! sampai akhirnya kamu datang menyapa saya, kamu bilang kalo kamu ingat (rindu?) sama saya, menanyakan kado apa yang saya inginkan di hari ulang tahun saya nanti, mendoakan saya menemukan seseorang, mendoakan agar saya dewasa, dan akhirnya kamu buat saya menangis (saya yakin itu tangisan terakhir), dan pada saat itu, detik itu, saya lega, saya tau saya udah move on. Akhirnya saya tau apa itu move on.

Sekali lagi, terima kasih untuk sudah datang. Saya senang kita bisa berteman lagi tanpa ada yang mengganjal. Terima kasih untuk tidak bersikap kayak orang asing lagi. Terima kasih udah datang sebagai teman. Buat saya itu sudah lebih dari cukup. Saya senang, bahagia. Terima kasih untuk memberikan kesempatan kepada saya untuk menyambut sesuatu yang baru. Tapi satu hal yang harus kamu tau adalah, kamu akan selalu berada di hati saya. Itu saja. πŸ™‚

Maaf, surat kali ini sedikit lebih panjag dari surat yang pertama. Terima kasih sudah mendoakan saya, menyemangati saya, menginspirasi saya. Kamu yang sehat yah disana.

– Salam hangat πŸ™‚

Buitenzorg, 290212

1:21 am