Posted in Thoughts

1 Sore & 1 Senja

Sore itu, aku tak melupakannya. Duduk berdua di belakang jok penumpang, membiarkan diri kita dibawa laju kendaraan yang membelah jalanan Jakarta. Hanya kita berdua. Kau yang sedang asik dengan buku, kekasih abadimu. Sementara aku? aku duduk manis disampingmu sambil sesekali mencuri pandang ke arahmu, untuk melihat mata teduh itu. Mata yang menyimpan harapan dan dunia di dalamnya. Selebihnya kita hanya diam. Entah kenapa kita sering diam, pasrah, membiarkan pikiran kita diburaikan oleh waktu. Tapi aku menyukai diam. Karena aku dapat dengan leluasa merindukan kamu. Merasakan bagaimana merindukan kamu dalam jarak yang sejengkal.

**

Ingatkah kamu toko buku yang ada di sudut jalan itu? yah, toko buku itu. Tempat dimana kita menghabiskan waktu untuk menjemput senja. Perlahan kita merangkak pelan ke arah buku-buku yang tersusun rapi. Membuka bagian demi bagian dari buku-buku itu, berharap menemukan apa yang kita cari. Tanpa sadar, waktu mendapati kita sedang tertawa di salah satu sudut rak buku karena puisi yang kita baca. Dan kau menutup cerita kita dengan (tanpa sengaja) merusak salah satu rak kecil. hehehhe. Tenang saja, aku tidak akan membocorkannya pada siapa-siapa. Aku akan menyimpannya sendiri. Atau biarlah menjadi rahasia kecil kita berdua saja, rahasia kecil yang manis.

**

Pada akhirnya waktu membawa kita pada satu senja yang kita lewati bersama di atas halte yang tak jauh dari tokoh buku yang tadi kita singgahi. Kembali kita diam, sambil menonton setiap gerak gerik manusia yang sibuk dengan dunianya masing-masing. Ada yang menggerutu karena macet, ada yang mengumpat karena busway tak kunjung datang, dan ada yang memilih diam, seperti kita. Satu hal yang paling aku benci adalah menunggu. Tapi entah kenapa berjam-jam menunggu bersamamu pada saat itu terasa menyenangkan. Andai saja aku tau itu adalah senja terakhir.

***

Untuk seseorang, terimakasih untuk satu sore dan satu senja di langit Jakarta. 🙂

Advertisements