Live for the Little Things in Life

“Kamu terlalu sabar, makanya hidupmu sederhana”

Apa yang abang saya katakan waktu lalu masih menari-nari di kepala hingga saat ini. Terlalu sabar menurutnya adalah kok bisa saya memilih untuk menetap di kota kecil dengan gaji yang sangat rendah. Kota dimana hiburan yang ada hanyalah suguhan alam dan beberapa cofee shop. Kota yang jauh dari hingar bingar hiburan layaknya kota-kota besar. Menurutnya, hidup ini harus realistis. Hidup butuh uang. Jalan-jalan butuh uang. Beli apa yang kita inginkan, makan makanan enak, semuanya butuh uang. Lalu apa yang kamu dapatkan dengan gaji segitu. Apa cukup? Kamu bahagia?

Pertanyaan yang membuat saya kembali berpikir dan sedikit menyesal dengan keputusan saya untuk kembali ke kota kecil ini. Meninggalkan separuh dari impian saya, kesempatan yang menganga di depan mata, segala akses dan kenyamanan yang diberikan oleh kota dimana saya menghabiskan waktu untuk belajar dan menemukan passion saya. Semuanya saya tinggalkan hanya untuk kembali ke kota ini. Sudah tepatkah keputusan saya? lalu apa yang saya dapatkan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut cukup mengusik pikiran saya.

Dan dalam kegalauan yang panjang, saya menemukan sebuah postingan yang cukup menohok…

” Someone once told me to always live for the little things in life. Live for 5am sunrise and 5pm sunsets, where you’ll see colours in the sky that don’t usually belong. Live for the trips and bike rides with music in your ears and the wind in your hair. Live for days when you’re surrounded by your favourite people who make you realise that the world is not a cold, harsh place. Live for the little things because they will make you realise that this is what life is about, this is what it means to be alive.”

Lalu apa yang saya dapatkan dari kota ini?

Saya mendapatkan segala kenyamanan yang sangat saya rindukan semasa saya masih di Bogor. Laut biru, pantai yang bisa saya jangkau dalam hitungan menit, kumpulan bukit yang sangat cantik, senja, tidak ada macet, dan yang lebih penting adalah orang-orang di kota ini sungguh tau cara menikmati hidup dari apa yang disuguhkan semesta. Hidup dengan irama yang santai. Tidak ada yang namanya berdesakan di commuter line, terjebak macet di dalam angkot, berangkat kerja dari pagi-pagi buta.

Processed with VSCO with g3 preset

img_2617

img_0694

Dan saya sangat bersyukur untuk apa yang kota ini berikan pada saya, terlepas dari banyak kekurangan yang dimilikinya. Bagi saya, hidup tidak hanya soal uang, tapi juga soal hal-hal sederhana dalam hidup yang lebih dari cukup untuk membuat kita bahagia. 🙂

 

Advertisements

#Random

Tuhan membuat dunia ini dengan humor. Kita saja yang terlalu menganggapnya serius. – Seseorang –

Iya, serius. Saking seriusnya mikirin hidup sampai-sampai dahi saya sering berkerut. Untung saja ada alam sebagai penyeimbangnya. Dalam percakapan yang panjang, seorang teman sering mengingatkan saya “Jangan terlalu serius mikir Fid.” Jawaban saya cuma “Hehehe” dan kemudian nyengir.

Saya sama sekali enggak pernah menyangka akan terjebak dalam situasi seperti ini di usia 24 tahun. Tau kah apa yang saya bayangkan saat saya berusia remaja? Pada usia 20an saya sudah traveling ke berbagai tempat, memiliki pekerjaan impian, dan menikah pada usia 25 tahun. Dan liat sekarang, saya sedang terjebak pada ketidakpastian, jobless, dan hopeless. Menyedihkan bukan? Jujur saja, saya merasa kasihan sama diri saya sendiri, merasa gak berdaya, dan sedih karena belum berhasil memenuhi impian saya sendiri. Saya enggak peduli dengan tatapan prihatin, cemoohan, atau pendapat apapun dari orang lain. Karena mereka gak tau apapun tentang apa yang telah saya lalui. Mereka gak tau kalau sebelumnya saya pernah bekerja kayak orang kesetanan untuk membayar biaya kuliah dan buku sekolah adik-adik saya. Mereka gak tau udah berapa peluang kerja yang udah saya tolak karena beberapa alasan yang ternyata membawa saya terjebak dalam situasi sekarang ini.

Dan kembali pada percakapan antara saya dan teman. He said “ Fida, pi karja la cari pengalaman banya2. Pengalaman itu yang bentuk ose pung karakter, biking ose ketemu banyak orang, tambah jaringan.” Kemudian saya seperti tersadar dan bangun dari mati suri yang sangat panjang. Saya akhirnya sadar bahwa selama ini saya gak bergerak karena saya takut keluar dari zona nyaman. Karena saya takut saya enggak bisa padahal saya bisa. Karena saya takut enggak bisa memenuhi harapan keluarga saya yang ingin saya bekerja seperti apa yang mereka inginkan. Padahal ini hidup saya, saya yang menjalaninya. Live your life the way you fucking want to Fida!

Berbahagialah!

Selama kau bisa menatap langit tanpa rasa takut, kau akan selalu bisa menemukan kebahagiaan. – Anne Frank

Beberapa bulan berada di rumah orang tua saya di daerah pesisir membuat hari-hari saya tenang dan bahagia. Bagaimana tidak, setiap sore saya disuguhi matahari terbenam yang sangat cantik dan indah oleh Sang Pencipta. Tiap melihat matahari terbenam serta laut sore yang tenang, perasaan saya seketika dilimuti ketenangan dan kehangatan. Saya bahagia, sangat bahagia. Bahagia yang sudah tidak saya rasakan sejak lama.

Bahagia mungkin bagi sebagian orang adalah sepatu bermerek, gadget mahal, pakaian mode terbaru, atau hal-hal yang bersifat materi lainnya. Tapi saya belajar untuk tidak menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal tersebut. Saya belajar untuk bahagia dari apa yang ada di sekitar. Matahari pagi yang hangat, laut sore yang tenang, matahari terbenam, pelangi, langit biru, bau tanah & pohon setelah hujan, hujan, puisi, musik klasik, lelucon yang aneh & konyol, karakter yang ada di buku, dan hal-hal kecil lain yang berkesan. Saya bisa sangat histeris saat melihat laut biru kehijauan. Menitikan air mata saat mendengar puisi yang dibacakan oleh seseorang. Hati saya merasa luas & lega ketika memandang langit biru. Hati saya berdesir saat mendengar suara ombak. Dan rasanya saya ingin menari bersama hamparan padi saat ditiup angin.

Bandung Selatan

Bandung Selatan

Saat matahari kembali ke peraduannya

Saat matahari kembali ke peraduannya

Pantai Liang

Pantai Liang

Dan saya rasa Anne Frank benar…

Pergilah ke luar, ke alam, nikmati alam dan sinar matahari, pergilah dan cobalah bangkitkan kembali kebahagiaan di dalam dirimu dan iman kepada Tuhan. Pikirkan semua keindahan yang masih tersisa di sekelilingmu, dan berbahagialah.

Berbahagialah!

#Random

Ada seorang bijak pernah berkata:

Listen to the advice of older people. Not because they are right, but because they have the most experience being wrong.

Seperti halnya diriku yang belajar banyak dari ke dua orangtua ku. Belajar dari pernikahan mereka yang hampir gagal, cara mereka mengasuh dan membesarkan anak-anak, cara mereka berkomunikasi sebagai pasangan, dan belajar dari cara mereka me-manage keuangan. Manusia gak ada yang sempurna, begitu juga dengan ke dua orangtuaku.Tapi aku mencintai mereka apa adanya. Aku mencintai mereka dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka. Dan aku memaafkan mereka untuk pola asuh mereka yang kurang tepat, untuk suasana kurang harmonis yang mereka ciptakan di dalam rumah, untuk membawa kami anak-anaknya ke dalam masa-masa sulit. Namun dibalik itu semua, aku juga sangat berterima kasih untuk pelajaran hidup yang mereka ajarkan untuk kami anak-anaknya. Sesungguhnya mereka adalah guru kehidupan yang sangat luar biasa.

Makasih Pa, Ma..

untuk selalu mengajarkan kami berbagi walaupun hanya sedikit yang kami miliki

untuk mengajarkan kami memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kami

untuk mengajarkan kami belajar mendahulukan kepentingan orang lain

untuk mengajarkan kami akur sebagai saudara dan saling menyayangi

untuk mengajarkan kami sabar dalam menghadapi masa-masa sulit

dan untuk pelajaran hidup lainnya yang gak bisa kami sebutkan satu-persatu.

We love you ~

20 Facts about Me

TOBeeeeee yayyyy

  1. Terlahir dengan nama Rafida Djakiman. Tapi di akte kelahiran, KTP, dan ijasah SD-S1 tercantum Rapida Djakiman
  2. Punya beberapa nama panggilan; Nona, Ida, Fida, Tata, Loen (baca: Lun), dan akhir-akhir ini beberapa teman memanggilku Afika
  3. Anak ke-3 dari 8 bersaudara
  4. Suka membaca sejak kecil
  5. Lebih banyak memiliki buku dibandingkan baju
  6. Gak sabaran dan cepat panik
  7. Bad habit : sering makan mie dengan religiusnya
  8. Sangat suka berbagai makanan olahan dari pisang
  9. Benci keramaian dan gak suka basa-basi
  10. Pecinta laut, pantai, langit biru, taman kota, lampu kota, gunung, kebun teh, gedung-gedung tua, bau tanah & pohon setelah hujan
  11. Tidak terlalu banyak berbicara kecuali merasa nyaman dan tertarik dengan topik yang dibicarakan
  12. Penggemar puisi, film (detektif, sejarah, & komedi romantis), musik klasik, country, dan jazz
  13. Sangat suka sepatu, vintage items, dan home decor
  14. Suka hujan, tapi benci kilat dan petir
  15. Alergi dingin dan debu
  16. Ingin mengulang masa kecil
  17. Suka traveling, tapi hingga saat ini masih banyak tempat yang belum dikunjungi
  18. sangat tersentuh jika dihadiahi puisi, buku, dan hal-hal kecil yang sangat berkesan
  19. Lebih memilih menghabiskan waktu di toko buku, perpustakaan, dan museum daripada di mall
  20. Ingin membangun TK, perpustakaan, dan coffee shop